Shaman, Warisan, dan Luka yang Menitis, Misteri Film Medium Terkuak!
- https://www.imdb.com/title/tt13446168/mediaviewer/rm28110593/
Film, VIVA Mindset –Film The Medium (2021) merupakan film horor asal Thailand yang disutradai oleh Banjong Pisanthanakun dan ditulis bersama Na Hong-jin, sineas Korea di balik film kultus berjudul The Wailing. Film ini memadukan gaya dokumenter dan fiksi dalam kisah mengerikan tentang warisan spiritual, kepercayaan, dan batas tipis antara keimanan serta kegilaan.
Film ini dibuka dengan gaya dokumenter yang merekam kehidupan seorang dukun perempuan bernama Nim yang dipercaya telah “diberkati” oleh roh suci Bayan, yakni sosok spiritual pelindung yang diwariskan turun-temurun dalam keluarganya. Berlatar di pedesaan Thailand bagian utara, film ini memperlihatkan bagaimana ritual, tradisi, dan kehidupan masyarakat lokal begitu lekat dengan dunia roh. Namun, ketika keponakan Nim bernama Mink mulai menunjukkan tanda-tanda kerasukan, kisah berubah dari dokumenter spiritual menjadi film eksorsisme paling menyeramkan dekade ini.
Film The Medium ini bukan sekadar horor tentang kerasukan, namun juga studi budaya tentang bagaimana kepercayaan diwariskan dna bagaimana trauma turun-temurun bisa termanifestasi dalam bentuk spiritual. Melalui lensa teori antropologi religus, The Medium mengajak penonton untuk mempertanyakan apakah roh benar-benar ada ataukah hanya proyeksi dari luka dan rasa bersalah manusia?
Kamera yang mengikuti setiap ritual dan perubahan perilaku Mink seolah menempatkan penonton sebagai saksi langsung, bukan hanya terhadap kerasukan, namun juga terhadap keputusasaan keluarga yang berpegang pada keyakinan mereka ketika logika modern gagal memberi jawaban.
Perempuan di Pusat Ritual
Salah satu kekuatan utama film ini adalah bagaimana ia menempatkan perempuan sebagai pusat spiritualitas dan penderitaan. Tokoh Nim bukan sekadar dukun, ia adalah penjaga tradisi yang juga memikul beban ekspektasi masyarakat. Melalui konteks teori Feminist Spirituality, posisi Nim mencerminkan dualisme perempuan dalam budaya patriarkal yang dihormati sebagai mediator dengan dunia roh, namun juga disalahkan ketika kekacauan terjadi.
Sementara Mink, sang keponakan menjadi cerminan perempuan muda yang kehilangan identitas di tengah benturan antara modernitas dan tradisi. Ketika kerasukan mulai menguasai dirinya, film ini seolah menunjukkan bagaimana tubuh perempuan dijadikan arena perebutan kekuasaan antara iman, warisan, dan trauma keluarga.