Black Phone 2, Warisan Teror Es dan Dendam yang Tak Pernah Padam
- https://www.rogerebert.com/reviews/black-phone-2-movie-review-2025
Film, VIVA Mindset –Kembali dengan sekuel dari film horror The Black Phone (2021) yang berhasil mengejutkan penonton dengan memperluas warisan kengerian The Grabber ke ranah mimpi dan masa lalu yang membeku.
Film ini disutradai oleh Scott Derrickson dengan cast utama Ethan Hawke, Jeremy Davies, dan Madeleine McGraw dan akan tayang tanggal 16 Oktober 2025.
Melalui ulasan Roger Ebert, Brian Tallerico menyebut Black Phone 2 sebagai “penghormatan berdarah kepada Nightmare on Elm Street” yang menyuntikkan gaya visual dan konsep mimpi ke dalam kisah trauma generasional dan kutukan keluarga.
Dari Dendam ke Dramatika Es, Plot yang Membekukan
Film ini membawa kisah yang berpusat di tahun 1982, beberapa tahun setelah peristiwa film pertama ketika Finney Blake (Mason Thames) masih bergelut dengan luka psikologis atas kematian The Grabber.
Berbeda untuk narasi kali ini lebih dikuasai oleh kakaknya, Gwen (Madeleine McGraw) yang mulai dihantui visi-visi yang mengerikan dimana anak-anak terperangkap di dalam danau beku, telepon tua yang terus berdengung di mimpinya, dan jejak-jejak dunia bawah es yang misterius.
Melalui salah satu visi, tokoh Gwen menjawab panggilan dari ibunya di masa lalu, sebuah koneksi waktu yang mempertemukan masa kecil keluarganya dengan kamp musim dingin “Alpine Lake.”
Bersama dengan Finney dan kekasih barunya, Ernesto (Miguel Mora), mereka masuk ke kamp tersebut dalam badai salju, sendirian bersama seorang supervisor misterius (Demian Bichir) dan dua staf pendamping. Dari storyline tersebut, misteri es dan kutukan masa lalu pun mulai terkuak.
Visual Mimpi dan Sinema Horor yang Tak Biasa
Salah satu kekuatan Black Phone 2 adalah visi mimpi Gwen yang divisualisasikan dengan kualitas video era 80-an berbalut grainy, kabur, dan seperti adegan kaset bootleg. Kameramennya, Par M. Ekberg memanfaatkan teknik overuse dream-lighting untuk menciptakan kesan seolah kita masuk ke dalam nightmare recording.
Adegan ikoniknya seperti satu urut kamera mengelilingi booth telepon di padang salju mengaburkan batas realitas dan roh. Juga teknik perspektif paksa, framing bergaya simetris, dan transisi visual es yang membuat suasana lebih canggung daripada sekadar menakutkan.