Sleeping Beauty (1959) dan Politik Gender Pasca Perang
- https://www.imdb.com/title/tt0053285/mediaviewer/rm540063489/
Film, VIVA Mindset – Film klasik Sleeping Beauty (1959) milik Walt Disney sering dianggap sebagai dongeng romantis yang abadi dari kisah cinta sejati, pangeran tampan, dan putri cantik yang tertidur menunggu ciuman ajaib. Berbeda dengan kajian penelitian oleh Carrle dalam artikelnya yang berjudul “Gender Roles in ‘Sleeping Beauty’ (1959)” yang mengungkap sisi lain dari keindahan inosen film ini.
Tersembunyi dari warna pastel dan musik megah yang mengiringinya, film Sleeping Beauty (1959) menyimpan representasi gender konservatif yang menempatkan posisi perempuan sebagai pasif, tunduk, dan hanya “berharga” ketika ditemukan oleh laki-laki.
1. Tokoh Aurora, Putri Cantik tapi Tak Punya Suara
Peran Aurora sebagai tokoh utama Sleeping Beauty kerap dipuja sebagai simbol keanggunan Disney, namun peneliti menyoroti karakternya yang sebenarnya jarang berbicara, membuat keputusan, atau bahkan berperan aktif dalam kisahnya sendiri. Ia digambarkan menjalani hidup di bawah arahan tiga peri dan nasib yang ditentukan orang lain.
Sejak kecil, Aurora hidup dalam pengasingan demi menghindari kutukan, tumbuh menjadi sosok lembut, dan penurut yang hanya bermimpi tentang cinta sejati. Lagu terkenalnya, “Once Upon a Dream” menjadi simbol eksistensi ketergantungan Aurora pada figur laki-laki, sebuah refleksi dari pandangan masyarakat 1950an saat itu yang memandang perempuan hanya layak bahagia ketika “ditemukan” oleh pria.
Menurut peneliti, karakter Aurora mencerminkan feminine mystique ala Betty Friedan (1963), yakni perempuan cantik, baik, dan tidak memberontak terhadap kodrat domestik. Ia menjadi lambang ideal perempuan versi budaya patriarki pasca Perang Dunia II yang cantik, lembut, dan bergantung pada cinta laki-laki untuk mendapatkan makna hidup.
2. Pangeran Phillip dan Mitos “Penyelamat” oleh Laki-laki
Menyimpang sekali dengan karakter Aurora, Pangeran Phillip tampil heroik, aktif, dan kuat. Ia yang melawan naga, menembus duri, dan “menyelamatkan” Aurora dengan ciuman cinta sejati. Berbeda melalui perspektif peneliti yang berpendapat bahwa momen itulah yang justru menguatkan narasi patriarki klasik bahwa perempuan hanya bisa dibebaskan oleh laki-laki dan kebahagiaannya sepenuhnya bergantung pada tindakan sang pahlawan.
Tokoh Aurora tidak memiliki kuasa atas tubuh dan nasibnya, bahkan kebangkitannya pun bergantung pada kehendak pria. Melalui konteks sosial yang terjadi 1950-an, ini mencerminkan harapan bahwa perempuan harus menunggu, bukan bertindak. Seperti dalam banyak kisah Disney era awal, pangeran adalah penyelamat dunia dan perempuan hanyalah “hadiah” di akhir perjuangan. Miris sekali.