Sleeping Beauty (1959) dan Politik Gender Pasca Perang

Animasi Sleeping Beauty (1959)
Sumber :
  • https://www.imdb.com/title/tt0053285/mediaviewer/rm540063489/

3. Tiga Peri, “Ibu Rumah Tangga” dalam Dunia Sihir

img_title The Love Hypothesis Dinilai Fans Sangat Representasikan Novelnya, Meski Ada Beberapa Kekurangan

Walaupun tampak kuat dan berperan penting dalam melindungi Aurora, tiga peri yang bernama Flora, Fauna, dan Merryweather tetap dikonstruksikan peran keibuan yang tradisional. Mereka memasak, menjahit, dan berdebat soal warna gaun, yakni aktivitas-aktivitas yang menempatkan ketiganya dalam lingkup domestik.

Peneliti menilai dari adanya para peri sebagai sosok yang penyayang dan penyelamat Aurora, Disney tetap menggambarkan mereka dengan cara yang karikatural dari memiliki sifat yang cerewet, emosional, dan sedikit kikuk. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa tokoh perempuan yang punya kekuatan magis sekalipun tidak bisa lepas dari stereotip sebagai pengasuh.

img_title Draw You Out, Lagu Baru Noah Kahan untuk Soundtrack Sunrise on the Reaping

4. Disney dan Bayang-bayang Patriarki 1950an

Menurut peneliti, Sleeping Beauty (1959) tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial zamannya. Pada saat era Amerika tahun 1950an setelah Perang Dunia II, banyak perempuan yang semula bekerja di pabrik diminta kembali ke rumah untuk menjadi istri dan ibu. Film ini, sadar atau tidak, ikut memperkuat pesan itu: dunia perempuan adalah rumah dan kebahagiaan mereka datang ketika mereka dicintai dan dilindungi oleh pria.

img_title General Mayhem, The Killing of Brigadier J, Dokumenter Netflix yang Kupas Kasus Ferdy Sambo

Mengutip dari apa yang dikatakan seorang kritikus budaya Jack Zipes, Disney “menjinakkan” dongeng klasik menjadi alat pelestarian nilai konservatif. Sleeping Beauty (1959) tidak lagi kisah tentang kutukan dan sihir, melainkan tentang bagaimana perempuan yang patuh dan cantik pada akhirnya “layak” mendapatkan cinta sejati.