Reparenting, Cara Berdamai dengan Inner Child yang Terluka
- https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-bermain-main-dengan-kincir-angin-26074166/
Misalnya, kritik kecil di tempat kerja terasa seperti penolakan besar, atau kesalahan sederhana memunculkan keyakinan bahwa diri sendiri tidak cukup baik.
Akibatnya, sebagian orang lebih mudah mengalami rasa cemas, sulit menetapkan batasan, terus berusaha menyenangkan orang lain (people pleasing), atau terlalu keras mengkritik diri sendiri.
Reaksi tersebut bukan berarti seseorang lemah, melainkan bisa menjadi tanda bahwa masih ada kebutuhan emosional yang belum benar-benar diproses.
Bagaimana Cara Memulai Reparenting?
Reparenting bukan proses yang instan. Tujuannya bukan menghapus masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri sedikit demi sedikit.
Salah satu langkah sederhana adalah belajar mengenali dan memvalidasi emosi yang muncul tanpa langsung menghakimi diri sendiri.
Ketika merasa sedih, marah, atau kecewa, cobalah memberi ruang untuk merasakan emosi tersebut sebelum mencari solusi.
Selain itu, penting untuk melatih self-compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang sama seperti ketika kita menghibur orang yang kita sayangi.
Bagi sebagian orang, langkah ini terasa sulit karena mereka terbiasa menjadi pengkritik paling keras bagi dirinya sendiri.
Focus on the Family Indonesia juga menyebutkan beberapa latihan yang dapat membantu memulai proses reparenting.
Misalnya dengan menulis surat kepada diri sendiri saat masih kecil, membuat jurnal untuk mengenali pola emosi, berbicara kepada diri sendiri dengan kata-kata yang lebih penuh kasih, atau meluangkan waktu melakukan aktivitas yang dulu disukai ketika masih anak-anak, seperti mewarnai, menggambar, mendengarkan musik, atau bermain di alam terbuka.
Meski tampak sederhana, aktivitas tersebut dapat membantu seseorang membangun kembali rasa aman, nyaman, dan penerimaan terhadap dirinya sendiri.
Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?
Reparenting dapat menjadi salah satu cara untuk lebih memahami diri sendiri. Namun, proses ini bukan pengganti terapi, terutama jika seseorang memiliki pengalaman traumatis atau luka emosional yang cukup berat.
Apabila proses mengenali pengalaman masa kecil justru memunculkan emosi yang terasa sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang merasa kewalahan, tidak ada salahnya mencari bantuan dari psikolog atau konselor.