Dekat Secara Rumah, Jauh Secara Obrolan : Krisis Conversation di Keluarga Modern
- https://theconversation.com/were-quick-to-limit-kids-screen-time-parents-can-also-benefit-from-setting-boundaries-for-themselves-240904
Parenting, VIVA Mindset – Dalam satu atap rumah akan tetapi ada anak yang merasa bahwa dirinya sendiri, semua anggota keluarga memiliki kesibukan masing masing, seperti ayah sibuk menatap layar laptop, ibu sibuk menonton ponselnya, anak di rumah itu duduk di sudut ruang keluarga. Pemandangan ini akan sering ditemui di keluarga yang ada di kota kota besar.
Orang tua yang sibuk bekerja, anak sibuk dengan sekolah serta gadgetnya, sementara percakapan di rumah perlahan berubah dengan instruksi sehari – hari. Obrolan hangat tergantikan oleh pertanyaan singkat seperti “sudah makan ?”, “sudah mengerjakan PR ?” atau “jangan main hp terus”.
Padahal yang dibutuhkan oleh anak bukan hanya sekedar arahan semata. Mereka membutuhkan ruang aman untuk berbicara, di dengar dan dipahami tanpa rasa takut untuk dihakimi. Di era generasi alpha, kebutuhan emosional anak terhadap conversation atau percakapan justru semakin besar. Anak anak masa kini lebih ekspresif, lebih sadar emosi, tetapi lebih rentan merasa kesepian ketika tidak memiliki koneksi emosional.
Banyak orang tua mengira kedekatan dibangun lewat fasilitas dan kehadiran fisik. Padahal, kedekatan emosional justru tumbuh dari percakapan-percakapan kecil yang konsisten dilakukan setiap hari. Dalam sebuah podcast parenting, dijelaskan bahwa banyak anak mengalami kondisi learning shutdown, yaitu keadaan ketika anak memilih diam karena merasa pendapatnya tidak benar-benar dihargai di rumah.
Anak akhirnya terbiasa menyimpan cerita sendiri karena setiap kali berbicara, respons yang muncul justru berupa nasihat panjang, perbandingan, atau bahkan kemarahan.Tidak sedikit keluarga yang tanpa sadar membangun komunikasi satu arah.
Orang tua berbicara sebagai pihak yang paling tahu, sementara anak hanya diminta mendengar dan patuh. Kalimat seperti “Mama lebih pengalaman” atau “Ayah tahu yang terbaik” mungkin terdengar biasa, tetapi perlahan membuat anak kehilangan keberanian untuk menyampaikan isi pikirannya.
Akibatnya, hubungan orang tua dan anak terlihat baik di permukaan, tetapi sebenarnya penuh jarak emosional. Anak patuh, tetapi tidak terbuka. Anak diam, tetapi bukan berarti nyaman.
Kondisi ini semakin terasa ketika anak memasuki usia remaja. Banyak orang tua mulai mengeluhkan anak yang lebih nyaman bercerita kepada teman dibanding keluarga. Padahal, hubungan yang renggang sering kali tidak muncul tiba-tiba, melainkan terbentuk dari pola komunikasi yang tidak dibangun sejak kecil.