Mental Anak Bukan Dibentuk dari Tekanan, Tapi dari Cara Mereka Memahami Perasaan
- https://www.pexels.com/id-id/foto/buku-buku-pustaka-anak-kecil-anak-anak-7929418/
Parenting, VIVA Mindset –Banyak orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Tidak mudah menyerah, tahan banting, dan siap menghadapi dunia yang semakin keras. Tapi tanpa disadari, cara yang ditempuh sering kali justru berlawanan.
Anak didorong untuk terus mencoba, diminta tidak cengeng, bahkan kadang dipaksa untuk “kuat” sebelum mereka benar-benar siap. Padahal, mental yang kuat tidak lahir dari tekanan. Ia tumbuh dari sesuatu yang lebih sederhana kemampuan anak memahami dirinya sendiri.
Dilansir dari diskusi parenting oleh praktisi pengasuhan anak dari akun youtube Nikita Willy, mental anak bukan dibentuk dari seberapa sering mereka menghadapi kesulitan, tapi dari bagaimana mereka memahami apa yang mereka rasakan saat itu.
Masalahnya, banyak anak hanya mengenal dua emosi dasar:
senang dan sedih.
Padahal dalam keseharian, mereka mengalami lebih dari itu.
Ada rasa:
- kecewa saat tidak diajak bermain
- gugup saat mencoba hal baru
- frustasi saat merasa tidak mampu
- bahkan sakit hati dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele oleh orang dewasa
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah memberi label terlalu cepat.
Saat anak menolak belajar, orang tua langsung menyebutnya malas. Saat anak tidak mau mencoba lagi, dianggap tidak punya semangat. Padahal, menurut pendekatan ini, tidak ada anak yang benar-benar malas. Selalu ada alasan di balik perilaku mereka. Bisa jadi:
- ia merasa tidak mampu
- ia sedang frustasi
- atau ia takut gagal
Artinya, yang terlihat di luar hanyalah “permukaan”. Yang lebih penting justru apa yang tidak terlihat.
Ada anggapan bahwa untuk membentuk mental anak, mereka harus sering “dikeraskan”. Padahal, kekuatan mental tidak datang dari tekanan, tapi dari pendampingan. Saat anak jatuh atau gagal, yang mereka butuhkan bukan:
- dimarahi
- dibandingkan
- atau langsung diperbaiki oleh orang tua
Tapi ditemani. Diberi ruang untuk merasa tidak nyaman, sambil perlahan dibantu untuk bangkit kembali. Di situlah mental terbentuk bukan dari dipaksa berdiri, tapi dari belajar berdiri sendiri.