7 Pernikahan Agung di Hari Jumat dalam Sejarah Islam
- Unsplash @beatriz_perez
Meski demikian, Zulaikha tetap menyimpan cintanya kepada Nabi Yusuf as. Dia yang semula menyembah berhala juga sudah beralih beriman kepada Allah Swt.
Di suatu malam Jumat, dia berdoa minta dipertemukan dengan Nabi Yusuf as atau sebaliknya dihilangkan rasa cinta dia terhadap Nabi Yusuf as. Allah Swt. kemudian mengabulkan doa tersebut.
Pada suatu hari Nabi Yusuf as dan rombongan tentaranya melewati gubuk Zulaikha. Zulaikha kemudian keluar dan berteriak: “Maha Suci Allah Swt. yang dengan rahmat-Nya sudah menjadikan seorang budak menjadi raja.”
Nabi Yusuf as berhenti. Semula dia tidak mengenali Zulaikha. Akan tetapi setelah bercakap-cakap akhirnya beliau mengenali Zulaikha.
Singkat cerita, mereka kemudian menikah di Hari Jumat. Sebelumnya, dengan kekuasaan-Nya Allah Swt. mengembalikan kemudaan dan kecantikan Zulaikha, bahkan lebih cantik daripada sebelumnya.
3. Pernikahan Nabi Musa as dengan Syafura
Syafura adalah putri sulung Nabi Syuaib dari Madyan. Pertemuan pertama mereka berlangsung ketika Nabi Musa as tiba di Madyan dalam keadaan terpuruk.
Pada saat itu, Nabi Syuaib mengundang Nabi Musa as untuk datang ke rumahnya. Pihak yang menjadi utusan untuk menyampaikan undangan itu adalah Syafura.
Nabi Musa ternyata diminta untuk membantu Nabi Syu’aib mengurus peternakan. Setelah bekerja di sana selama 8 tahun, kualitas Nabi Musa as sebagai sosok berkepribadian tinggi.
Setelah delapan tahun, sebagaimana dikisahkan di dalam Al-Qur’an, Nabi Syu’aib kemudian mengungkapkan keinginannya untuk menikahkan Nabi Musa as dengan putrinya.
4. Pernikahan Nabi Sulaiman dengan Ratu Bilqis
Ratu Bilqis dalam lukisan Persia
- Wikimedia
Kisah Nabi Sulaiman as dengan Ratu Bilqis adalah salah satu kisah yang sangat populer. Bilqis adalah ratu kerajaan Saba, satu kerajaan kuno yang diperkirakan berada di Yaman. Dia digambarkan sebagai seorang wanita penguasa yang bijaksana.
Pernikahan mereka berlangsung di Hari Jumat pada saat Ratu Bilqis berkunjung ke tempat Nabi Sulaiman. Ratu Bilqis kemudian menemukan singgasananya sudah berada di sana karena dipindahkan oleh Ashif bin Barkhiya.
Ratu Bilqis yang semula menyembah matahari kemudian beriman kepada Nabi Sulaiman as setelah melihat bukti-bukti kenabiannya. Setelah itu barulah dia menikah dengan Nabi Sulaiman as.