Cara Bijak Menghadapi Keluarga yang Suka Mengkritik!

Orang tua mendapat komentar keluarga yang tidak diminta
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/mother-daughter-after-quarrel_1474495.htm

Parenting, VIVA Mindset – Tidak ada yang lebih hangat dari pelukan keluarga sampai komentar mereka mulai menusuk rasa nyaman sebagai ibu. Begitulah yang dialami banyak orang tua, rasa bersalah sebagai ibu (mom guilt) bisa melonjak bukan hanya dari tekanan sosial, tetapi juga dari komentar keluarga yang terus mengkritik setiap pilihan dan tindakan dalam merawat anak. Dalam artikel “What To Do When a Critical Family Adds To Mom Guilt” yang dipublikasikan di Discerning Parenting, pengalaman ini dijelaskan secara jujur dan penuh empati.

Sering kali, apa yang dimaksudkan sebagai nasihat justru berubah menjadi tekanan orang tua. Sebuah contoh klasik: seorang ibu yang baru saja melahirkan dikelilingi oleh sanak saudara yang terus mengatakan bahwa ia “menyebabkan tangisan bayi karena cara menggendongnya salah,” atau “menyusui itu sudah tidak cukup, lebih baik berikan formula.” Ini bukan hanya soal pendapat ini adalah mom guilt yang memperkuat perasaan tidak pernah cukup baik sebagai ibu.

Di tengah semua tekanan itu, penting untuk mengetahui bahwa setiap orang tua pasti mengalami komentar keluarga yang tidak diminta. Apa pun keputusanmu mau bekerja di luar rumah, memilih perawatan sendiri tanpa pengasuh, atau sekadar memilih kursi tinggi untuk si kecil pasti akan ada komentar. Bahkan yang terdengar baik pun bisa membuat ibu merasa tersudut atau dinilai.

Lalu bagaimana cara menghadapi kritikan keluarga tanpa membiarkan mom guilt mengambil alih?

1. Nilai setiap saran dengan bijak

Tidak semua komentar itu harus diikuti. Kritik yang benar-benar membantu cenderung spesifik dan bisa diuji berdasarkan nilai perkembangan anak. Jika itu hanya opini tanpa dasar, boleh didengarkan dengan santai, lalu memilih apa yang sesuai dengan nilai yang dipegang.

2. Jangan ambil secara pribadi

Komentar yang menyakitkan sering kali mencerminkan ketidaknyamanan atau kebiasaan pemberi komentar, bukan cerminan kemampuan sebagai ibu. Menyadari hal ini bisa mengendurkan tekanan batin yang sering muncul akibat mom guilt.

3. Kenali pemicu emosi

Mengetahui komentar atau situasi apa yang memicu frustrasi membuat ibu bisa mempersiapkan strategi: apakah harus dihadapi secara langsung, atau memilih tidak hadir di acara keluarga tertentu demi kesehatan mental.