Mengapa Penentuan Awal Ramadan Bisa Berbeda? Ini Penjelasan Ustadz Adi Hidayat!

Adi Hidayat jelaskan penyebab penentuan awal Ramadan berbeda.
Sumber :
  • Ist

Mindset – Mengapa awal Ramadan sering berbeda? Ustadz Adi Hidayat menjelaskan hubungan hisab, rukyat, dan ijtima dalam menentukan awal puasa. Simak penjelasan ilmiahnya!

Setiap tahun, penentuan awal Ramadan kerap menjadi perdebatan di Indonesia. Perbedaan metode rukyat (pengamatan hilal) dan hisab (perhitungan astronomi) sering memunculkan perbedaan awal puasa.

Ustadz Adi Hidayat, seorang ulama dan cendekiawan Islam, memberikan penjelasan ilmiah dan komprehensif mengenai fenomena ini yang dikutip dari channel Youtube Ngaji From Home.

Fenomena Ijtima dan Konjungsi dalam Astronomi Islam

Menurut Ustadz Adi Hidayat, peristiwa yang menjadi kunci dalam penentuan awal bulan Hijriyah adalah ijtima, yang dalam ilmu astronomi disebut konjungsi.

Pada fase ini, matahari, bulan, dan bumi berada dalam satu garis lurus. Momen ini terjadi setiap tanggal 29 bulan Hijriyah dan menjadi tanda berakhirnya bulan sebelumnya.

Namun, muncul perbedaan dalam penentuan awal Ramadan karena metode yang digunakan berbeda.

Hisab mengacu pada perhitungan astronomi yang bisa memprediksi posisi hilal secara matematis.

Sementara itu, rukyat bergantung pada pengamatan visual langsung terhadap kemunculan hilal setelah matahari terbenam.

Persoalan Ketinggian Hilal dan Perbedaan Penafsiran

Pemerintah Indonesia menetapkan bahwa hilal harus berada minimal 2 derajat di atas ufuk agar bisa dikonfirmasi sebagai tanda masuknya bulan baru.

Jika hilal belum terlihat atau berada di bawah 2 derajat, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).

Di sisi lain, negara lain mungkin memiliki standar yang berbeda, seperti Turki yang menggunakan batas 5 derajat, sehingga awal Ramadan bisa jatuh pada hari yang berbeda.

Mengapa Perbedaan Ini Terjadi?

Ustadz Adi Hidayat menekankan bahwa perbedaan ini bukanlah masalah fundamental dalam Islam. Justru, metode hisab dan rukyat adalah dua hal yang saling melengkapi.

Seperti dalam ibadah sholat, yang kini ditentukan berdasarkan hisab (jadwal waktu sholat), sementara dahulu ditentukan dengan rukyat (pengamatan langsung terhadap posisi matahari).

Menurut beliau, umat Islam sebaiknya tidak terpecah belah akibat perbedaan ini, melainkan melihatnya sebagai bagian dari keberagaman metodologi dalam ilmu falak dan syariat Islam.

Ustadz Adi Hidayat menegaskan, yang terpenting adalah siapa pun yang mengikuti metode yang disahkan oleh otoritas setempat tetap sah puasanya. Jadi, perbedaan bukanlah alasan untuk saling menyalahkan, melainkan untuk memahami bahwa Islam memiliki keluasan dalam penerapan syariatnya. *AT