Katanya Memotivasi, Tapi Anak Malah Jadi Tertekan? Ini Dampak Overachievement Pressure

Tekanan untuk selalu berprestasi dapat meningkatkan stres pada anak
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/upset-little-girl-sitting-near-crop-woman-in-classroom-4173335/

Parenting, VIVA Mindset –Banyak orang tua ingin anaknya berkembang dan meraih prestasi yang baik. Dorongan untuk belajar lebih giat, mengikuti berbagai kegiatan, atau mendapatkan nilai tinggi sering dianggap sebagai bentuk motivasi anak.

img_title Batasi Layar Gawai: Kunci Cegah Isolasi Sosial Remaja Sejak Dini

Namun dalam beberapa situasi, dorongan tersebut dapat berubah menjadi tekanan prestasi anak yang berlebihan. Anak mungkin merasa bahwa keberhasilannya menjadi ukuran utama untuk mendapatkan pengakuan.

Kondisi ini sering disebut sebagai overachievement pressure, yaitu tekanan untuk selalu tampil sempurna atau berprestasi tinggi. Jika terjadi terus-menerus, tekanan ini dapat memengaruhi kondisi emosional anak.

img_title Menangkal Krisis Identitas Remaja Akibat Paparan Algoritma dan Media Sosial

Anak Menjadi Takut Gagal

Salah satu dampak dari overachievement pressure adalah munculnya rasa takut gagal. Anak bisa merasa bahwa kesalahan adalah sesuatu yang tidak boleh terjadi.

img_title Menjaga Kesehatan Mental Remaja di Tengah Tekanan Ujian dan Sekolah

Akibatnya, anak menjadi terlalu berhati-hati dan enggan mencoba hal baru. Kondisi ini dapat memengaruhi kepercayaan diri anak, karena anak mulai meragukan kemampuannya sendiri.

Anak Lebih Mudah Mengalami Stres

Tekanan untuk selalu berprestasi juga dapat meningkatkan stres pada anak. Jadwal belajar yang padat, berbagai tuntutan kegiatan, serta ekspektasi tinggi dari lingkungan dapat membuat anak merasa kewalahan.

Jika berlangsung dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan mental anak. Anak mungkin mengalami kecemasan, kelelahan emosional, atau kehilangan keseimbangan antara belajar dan beristirahat.

Motivasi Anak Bisa Berubah Menjadi Tekanan

Ironisnya, tekanan yang terlalu besar justru dapat menurunkan motivasi anak. Anak mungkin belajar bukan karena ingin berkembang, tetapi karena takut mengecewakan orang tua.

Ketika motivasi berubah menjadi tekanan, proses belajar tidak lagi terasa menyenangkan. Anak bisa kehilangan rasa ingin tahu dan semangat untuk mencoba hal baru.

Dukungan yang Seimbang Lebih Penting

Memberikan dorongan kepada anak tentu merupakan bagian dari pola asuh anak yang wajar. Namun orang tua perlu memastikan bahwa dorongan tersebut tidak berubah menjadi tekanan prestasi anak yang berlebihan.

Anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar dari kesalahan, mencoba berbagai hal, serta berkembang sesuai dengan kemampuan dan minatnya.

Dengan dukungan yang seimbang, anak dapat membangun kepercayaan diri anak sekaligus menjaga kesehatan mental anak secara lebih sehat.