Produktif Tapi Burnout, Paradoks Gen Z di Era Serba Cepat
- https://www.pexels.com/id-id/foto/35542602/
Parenting, VIVA Mindset – Di tengah maraknya budaya hustle dan tuntutan untuk selalu berkembang, Generasi Z kerap dipandang sebagai generasi paling produktif. Mereka aktif di organisasi kampus, magang di berbagai tempat, membangun personal branding di media sosial, hingga menjalankan side hustle.
Paradoks ini menjadi sorotan karena semakin banyak anak muda yang mengaku merasa lelah secara mental meski secara pencapaian terlihat “baik-baik saja”. Media sosial dipenuhi unggahan tentang pencapaian, sertifikat, proyek baru, hingga rutinitas produktif sejak pagi.
Tekanan untuk Selalu Terlihat Produktif
Bagi Gen Z, produktivitas tidak lagi sekadar menyelesaikan tugas. Produktif berarti terus bergerak, terus menghasilkan, dan terus menunjukkan pencapaian.
Platform seperti Instagram, LinkedIn, dan TikTok menjadi ruang pamer portofolio digital. Tidak jarang, standar keberhasilan seseorang diukur dari seberapa sibuk dan seberapa banyak pencapaian yang dibagikan.
Fenomena ini berkaitan erat dengan Fear Of Missing Out (FOMO). Ketika melihat teman sebaya sudah magang di perusahaan besar, memiliki bisnis sendiri, atau meraih beasiswa luar negeri, muncul dorongan untuk ikut mengejar hal serupa. Tanpa disadari, perbandingan sosial yang terus-menerus ini memicu tekanan internal.
Menurut laporan Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey, hampir setengah responden Gen Z mengaku merasa stres atau cemas hampir sepanjang waktu. Faktor pekerjaan, kondisi finansial, serta tekanan sosial menjadi penyebab utama. Data ini menunjukkan bahwa generasi muda memang memiliki tingkat kesadaran tinggi terhadap produktivitas, tetapi juga menghadapi beban mental yang signifikan.
Mengenal Burnout Lebih Dekat
Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization, mendefinisikan burnout sebagai sindrom akibat stress kronis di tempat kerja yang tidak berhasil dikelola dengan baik. Burnout ditandai dengan tiga dimensi utama, yaitu kelelahan emosional, meningkatnya sikap sinis atau jarak terhadap pekerjaan, dan penurunan efektivitas profesional.
Meski definisi formalnya berkaitan dengan konteks pekerjaan, pada praktiknya burnout juga dialami mahasiswa dan pelajar. Jadwal padat, tuntutan akademik, kegiatan organisasi, serta ekspektasi keluarga sering kali menumpuk tanpa jeda yang cukup untuk pemulihan.