Ini Hal yang Bisa Orang Tua Lakukan saat Anak Overstimulasi
- pexels.com (https://www.pexels.com/id-id/foto/anak-sedih-tidak-bahagia-tidak-senang-7820629/
Parenting, VIVA Mindset –Overstimulasi merupakan sebuah respons tubuh terhadap aktivitas atau rangsangan yang berlebihan. Kita semua berinteraksi dengan rangsangan lingkungan sepanjang waktu, tetapi setiap orang memiliki kapasitas dan keterbatasan yang berbeda.
Melansir Parents, anak bayi memiliki respon pada rangsangan yang cukup sensitif. Apalagi mengingat mereka belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai rasa lelah.
Alhasil, banyaknya bermain, bercanda selama seharian bisa membuat si kecil kelelahan, dan akhirnya rewel sepanjang malam.
Tanda-tanda anak overstimulasi
Masih menurut laman Parents, ada beberapa ciri atau tanda anak mengalami overstimulasi.
Bayi:
- Menangis
- Menggerakkan anggota tubuh secara tiba-tiba atau mengepalkan tinju
- Mengalihkan pandangan dari sumber rangsangan
Balita:
- Menangis
- Terlihat pemarah atau mudah tersinggung
- Terjatuh ke lantai
Anak-anak usia sekolah:
- Bertingkah laku rewel, terlalu lelah, atau mudah tersinggung.
- Bertingkah liar atau agresif
- Mengalami perilaku seperti tantrum.
Hal yang bisa dilakukan saat anak overstimulasi
Saat anak mengalami overstimulasi, kamu perlu menghilangkan rangsangan yang berlebihan tersebut. Cobalah untuk membawa si kecil ke tempat yang tenang dan minim stimulasi.
Kamu bisa coba mengurangi tingkat rangsangan sebisa mungkin. Dekap anak erat-erat, tutup telinganya, atau redupkan lampu. Jangan memarahinya saat rewel karena overstimulasi. Sebab, mereka tidak bisa mengatasinya sendiri.
Setelah overstimulasi mereda, hindari membuat kondisi ini kambuh. Pastikan jam main dan jam tidur berada di angka yang tepat sehingga anak jadi tidak terlalu lelah.