Tips Efektif Menghadapi Anak Susah Diatur agar Kooperatif dengan Pola Asuh yang Tepat
- https://www.freepik.com/free-photo/young-woman-quarrels-with-offended-girlfriend_3938845.htm
Parenting, VIVA Mindset – Perilaku anak sulit diatur sering muncul ketika anak berjuang mengendalikan emosi atau mengungkapkan kebutuhannya secara verbal karena pada saat itu, anak masih belum bisa menyampaikan perasaannya dengan kata-kata yang baik dan benar.
Perilaku anak yang sulit diatur bukan sekadar kenakalan semata, tetapi juga menjadi bagian dari proses perkembangan sosial dan emosional anak. Cara orang tua merespons perilaku ini dan konsistensi dalam pola asuh anak menjadi salah satu bukti yang berpengaruh untuk anak supaya bisa menyesuaikan diri dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang tua yang menghadapi situasi anak susah diatur, terutama ketika makan, mandi, dan belajar. Kondisi ini sering menimbulkan frustasi dan konflik berulang pada anak. Menurut UNICEF, strategi disiplin yang sehat bisa membantu orang tua memahami perilaku anak dan mendorong kerja sama yang lebih baik.
Cara Mengatasi Anak Susah Diatur
Beberapa cara di bawah ini bisa diterapkan oleh orang tua untuk mengatasi anak susah diatur.
- Libatkan Anak dalam Aturan Keluarga
Ajak anak duduk bersama untuk membuat aturan sederhana dan masuk akan sesuai usia mereka. Ketika anak memahami aturan dan konsekuensinya, mereka akan merasa dihargai dan lebih kooperatif.
- Tetapkan Batasan yang Jelas dan Konsisten
Jelaskan batasan dengan tegas dan ulangi secara konsisten terhadap aturan dan harapan yang perlu disampaikan. Anak yang tahu harapan orang tua terhadapnya cenderung lebih mengikuti aturan tanpa konflik berkepanjangan.
- Beri Pilihan untuk Mengurangi Perlawanan
Memberikan pilihan sederhana–misalnya, memilih pakaian atau urutan mandi bisa membantu anak merasa punya kontrol, sehingga konflik bisa diminimalkan.
- Tetap Tenang dan Sabar Saat Menghadapi Perilaku Sulit
Moments of difficulty sering memicu reaksi emosional dari orang tua sendiri. Menurut UNICEF, mengambil jeda sejenak dan menarik napas dapat membantu orang tua merespon dengan tenang, bukan dengan kemarahan.
- Gunakan Bahasa yang Mendukung, Bukan Memarahi
Apabila anak bersalah, usahakan untuk menghindari memarahi anak karena anak akan merasa takut. Ketika anak bersalah, orang tua hanya perlu berbicara tenang dan diskusi setelah emosi reda untuk mengajarkan anak mencari solusi.