Larangan Adalah Ancaman, Tips Membimbing Anak Tanpa Kata Jangan

Orang tua memberi arahan sambil memberi ruang eksplorasi bagi anak
Sumber :
  • https://www.healthline.com/health/parenting/mindful-parenting

Parenting, VIVA Mindset –Anak - anak terutama pada tahap balita mengalami masa eksplorasi dan rasa penasaran yang tidak terbatas. Karenanya, sebagai orang tua dan calon pendidik, cara berkomunikasi kepada anak memiliki pengaruh vital terhadap perkembangan kognitif mereka.

img_title Membaca Fiksi Sejak Dini agar Anak Paham Bencana Bukan Cuma Berita yang Cukup Dihadapi dengan Mindfulness

 

Salah satu kebiasaan berbicara yang sering dilakukan orang tua adalah menggunakan kata “jangan” untuk melarang anak melakukan sesuatu, seperti “Jangan nakal” atau “Jangan lompat-lompat” Beberapa orang tua mungkin mengatakannya hanya untuk menghindari keruwetan, atau membantu anak dalam menetapkan batasan perilaku. Di sisi lain, ternyata terlalu sering mengatakan “jangan” cukup berdampak negatif bagi anak. Menurut Mommies Daily, anak akan cenderung merasa tidak mampu dan takut untuk keluar dari zona nyaman ketika sering mendengar kata “jangan”

img_title Mengenal Bullying pada Anak: Jenis, Dampak terhadap Kesehatan Mental, dan Cara Mencegahnya

 

Kapan harus berkata “jangan” pada anak?

img_title Mengenal Ms. Rachel dan Metode Viralnya dalam Membantu Speech Delay Anak

 

Orang tua perlu memahami urgensi permasalahan pada anak saat menggunakan larangan. Jika alasan orang tua melarang adalah karena tindakan anak dapat membahayakan dirinya maupun orang lain, merusak barang, atau mengganggu hak orang lain, maka memberikan larangan memang diperlukan. Namun, penyampaiannya tetap harus menggunakan bahasa yang jelas dan lembut agar mudah diterima oleh anak.

Hindari terlalu sering mengucapkan larangan seperti “tidak” atau “jangan”, supaya anak tetap memiliki ruang untuk bereksplorasi. Tidak masalah jika anak melakukan kesalahan selama hal tersebut tidak membahayakan dirinya maupun lingkungan sekitar, karena dari situlah ia dapat belajar. Adapun sebagai alternatif, orang tua atau calon pendidik dapat berkomunikasi dengan cara menggunakan prinsip sebab-akibat Saat melarang anak, orang tua perlu menjelaskan alasan di balik larangan tersebut. Tujuannya agar anak memahami konsekuensi dari tindakannya, bukan hanya patuh karena takut. Dengan menerapkan prinsip sebab–akibat, anak lebih mudah memahami batasan dan belajar mengambil keputusan secara mandiri di masa depan.