Jangan Ucapkan Kalimat Ini ke Anak! Bahaya yang Tersembunyi
- https://unsplash.com/id/foto/potret-anak-perempuan-imut-duduk-di-bangku-kayu-dan-menangis-di-dekat-ibunya-yOmf6QJp4Wo
Parenting, VIVA Mindset –Menjadi orang tua bukan hanya soal memberi makan dan membimbing, tetapi juga berbicara karena kata-kata yang kita ucapkan bisa meninggalkan bekas yang dalam. Sebagaimana diungkap oleh Dr. Calvina Ellerbe dalam artikel Psychology Today, ada ungkapan-ungkapan yang sebaiknya dihindari karena dapat merusak ikatan emosional dan harga diri anak, salah satunya ialah kalimat
Kamu adalah alasan hidupku berat – Proyeksi Frustasi
Ketika orang tua frustasi, tidak jarang rasa lelah atau beban hidup dilemparkan ke anak. Pernyataan seperti “If I didn’t have kids, I’d be in a better place” mungkin sekadar luapan sesaat, tetapi dampaknya bisa menetap lama. Psychology Today
Dr. Ellerbe mengingatkan bahwa menyalahkan anak atas kesulitan hidup adalah hal yang tidak adil karena kita sebagai orang tua-lah yang memilih membawa mereka ke dunia ini.
Penting untuk diingat, anak tidak “memesan” kehidupan. Kita lah yang membuat keputusan dan bertanggung jawab atas buah hati kita.
Mengasosiasikan anak sebagai beban hidup bisa menanamkan rasa bersalah, rendah diri, dan ketidakamanan emosional.
Kata-kata menyalahkan seperti “kamu membuat hidupku susah” bisa berdampak besar pada perkembangan anak. Mereka bisa menanamkan dalam diri bahwa diri mereka memang “penyebab masalah” yang memicu kecemasan, rasa tidak berharga, bahkan depresi.
Ketika anak mendengar kalimat menyudutkan secara terus-menerus, rasa aman dan kepercayaan diri mereka bisa rapuh.
Oang tua harus bisa melihat peran mereka sebagai pemimpin bukan sekadar memberi perintah. Pemimpin sejati mengambil tanggung jawab atas hidupnya sendiri, bukan menyalahkan orang lain, termasuk anak.
Kehidupan orang dewasa memang penuh tantangan, dan sebagai pemimpin dalam keluarga, orang tua perlu menunjukkan bahwa beban hidup bukan semata-mata hasil dari memiliki anak. Psychology Today
Hubungan Orang Tua-Anak Bisa Tergeser Karena Blame
Menuduh anak sebagai “penyebab beban” bisa merusak fondasi hubungan yang sehat. Rasa bersalah, kesenjangan emosional, atau jarak batin dapat tumbuh jika anak merasa selalu disalahkan.
Sebaliknya, hubungan yang kokoh dibangun melalui kepercayaan, pengertian, dan komunikasi terbuka bukan dengan menyudutkan anak atas beban orang tua.