Sekolah Usia Dini untuk Anak, Perlu Nggak Sih?
- Jcomp/ Freepik/ https://www.freepik.com/free-photo/close-up-girl-child-friends-park-smiling-camera_2523564.htm
Kini ada banyak pilihan kurikulum untuk anak usia dini, mulai dari konvensional, Montessori, Waldorf, hingga sekolah alam. Menurut Cici Desri, yang terbaik adalah memilih sesuai karakter dan minat anak. Montessori misalnya, menekankan kemandirian dan menghargai bahwa tiap anak unik dalam proses belajar. Selain itu, orang tua juga harus cek aspek fasilitas sekolah, rasio guru dan murid, metode pembelajaran, hingga langkah sekolah dalam menangani bullying.
Preschool dan TKA/TKB, Perlu atau Tidak?
Preschool atau TKA/TKB bersifat tidak wajib, tapi bisa sangat membantu terutama jika orang tua sibuk atau kurang dapat memberikan stimulasi di rumah. Namun jika orang tua mampu stimulasi dengan baik di rumah, anak bisa tetap berkembang optimal tanpa harus masuk preschool. Yang penting adalah anak mendapatkan pengalaman belajar dan stimulasi yang tepat.
Cara Menghadapi Anak yang Belum Siap Sekolah
Anak yang menangis tiap berangkat sekolah bukan berarti selalu belum siap secara definitif. Kadang ini wajar sebagai masa adaptasi. Tapi jika tantrum dan menangis terus menerus lebih dari 30 menit selama berhari-hari sampai berminggu-minggu, ini tanda perlu evaluasi dan mungkin cari sekolah yang lebih cocok atau tunda dulu. Hal ini perlu dihadapi dengan empati dan pendampingan, misalnya menemani anak sampai benar-benar nyaman di lingkungan sekolah.
Stimulasi Anak Sebelum Sekolah
Stimulasi terbaik bisa dilakukan dari kegiatan sehari-hari di rumah, seperti mengajarkan anak membereskan tempat tidur, gosok gigi sendiri, memegang sikat, hingga bermain yang melatih motorik halus. Bahkan permainan tradisional seperti cilukba atau petak umpet membantu anak memahami konsep keberadaan benda yang tersembunyi dan hilang, yang merupakan stimulasi kognitif awal.
Homeschooling, Pilihan Positif dan Negatif
Bagi orang tua yang belum yakin dengan sekolah formal, homeschooling bisa jadi alternatif. Keunggulannya adalah fleksibilitas menentukan kurikulum sesuai nilai keluarga dan minat anak. Namun dibutuhkan komitmen dan waktu dari orang tua untuk mendampingi anak. Jika salah penerapan, anak bisa kurang interaksi sosial yang penting untuk perkembangan kognitif dan emosional.