Kenali Fase Terrible Two dan Cara Menghadapinya Saat Si Kecil Rewel

Cara mengatasi fase terrible two
Sumber :
  • https://unsplash.com/photos/a-little-boy-crying-while-holding-his-hand-EOjAQhwIVXs

Parenting, VIVA Kerangka berpikir -Fase terrible two adalah masa di mana anak menjadi rewel dan sering menunjukkan perilaku tantrum. Namun, orang tua tidak perlu khawatir, karena masa ini adalah bagian dari tumbuh kembangnya.

img_title Cara Mengatur Waktu Belajar dan Bermain Anak

Pada usia 1.5 hingga 2 tahun, si kecil mulai mencari identitas dan kemandirian. Sayangnya, kemampuan bahasa dan kontrol emosi mereka masih dalam proses perkembangan yang belum sempurna, sehingga sering terjadi friksi dengan diri sendiri dan orang tua. Karena itu, peran orang tua yang peka dan menggunakan pendekatan good parenting sangat penting agar fase ini dapat anak serta orang tua lalui dengan lebih ringan.

Dengan memahami apa itu terrible two dan mengadopsi strategi penanganan yang tepat, orang tua bisa menjaga keharmonisan dan terciptanya keluarga sehat meskipun hari-hari terkadang terasa penuh tantangan.

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

Ciri-Ciri Fase Terrible Two

Sebelum orang tua belajar menghadapi fase ini dengan tepat, penting untuk mengenali tanda-tandanya terlebih dahulu. Dengan memahami ciri-ciri utama terrible two, orang tua bisa lebih peka dalam merespons sikap si kecil tanpa panik. Berikut beberapa hal yang biasanya muncul saat anak memasuki fase terrible two.

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya
  1. Frekuensi Tantrum yang Tinggi

Anak di fase terrible two sering mengalami ledakan emosi dalam bentuk tantrum, seperti menangis, marah, bahkan terkadang membanting barang. Hal ini anak alami terutama saat keinginan mereka tidak terpenuhi. Karena mereka belum sepenuhnya mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata, rasa frustrasi muncul dan sulit diolah. Meski berat saat terjadi, tantrum sebenarnya bagian normal dari proses belajar anak memahami batasan dan kendali diri.

  1. Keinginan untuk Mandiri

Si kecil mulai ingin melakukan banyak hal sendiri, contohnya seperti mengenakan pakaian, memilih sendiri mainan, atau mengatakan “tidak” lebih sering. Keinginan ini muncul seiring perkembangan kognitif dan fisik, tapi terkadang kemampuan motorik atau bahasa belum mendukung sepenuhnya. Situasi ini memicu benturan antara keinginan anak dan batas yang orang tua tetapkan, yang bisa membuat anak menjadi rewel.

  1. Perubahan Suasana Hati yang Cepat

Mood si kecil bisa berubah dari bahagia menjadi marah dalam hitungan menit tanpa alasan yang jelas bagi kita sebagai orang tua. Pemicu perubahan ini sering kali karena kelelahan, lapar, atau ketidakmampuan dalam berkomunikasi. Karena kemampuan regulasi emosi anak masih terbatas, mereka otomatis meledak bila keadaan yang anak rasakan tidak nyaman.

Halaman Selanjutnya
img_title