2 Penyebab Anak Zaman Sekarang Mudah Marah dan Depresi

Orang tua selalu bermaksud melindungi anak-anaknya.
Sumber :
  • natik_1123/ https://pixabay.com/id/photos/rumah-keluarga-cinta-mimpi-5574909/

Parenting, VIVA Mindset –Kita sering melihat anak-anak zaman sekarang gampang sekali marah. Sedikit-sedikit membanting ponsel. Anak-anak juga sulit bersosialisasi. Saat ada acara keluarga, mereka justru menyendiri. Banyak juga yang tidak punya cita-cita. Ini semua adalah tanda bahaya.

img_title Cara Mengatur Waktu Belajar dan Bermain Anak

Kesalahan Fatal Mengasuh Anak

​Dilansir dari @akalbuku di Instagram, masalah ini tidak akan selesai dengan pembiaran. Ada dua kesalahan besar yang sering orang tua lakukan. Apa sajakah kesalahan fatal dalam mengasuh anak?

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

1.       ​Terlalu dilindungi di dunia nyata.

Sejak tahun 1980-an, orang tua di Amerika mulai takut melepaskan anak bermain bebas. Alasannya adalah bahaya orang asing, kriminalitas, atau takut anak terluka. Ketakutan ini menyebar ke banyak negara, termasuk Indonesia.

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya

Contoh: Kita melarang anak naik sepeda sendiri. Kita tidak membiarkan mereka bermain di luar rumah. Kita selalu mengantar dan menjemput mereka.

Dampaknya: Anak kehilangan kesempatan belajar mandiri. Mereka tidak tahu cara menyelesaikan konflik. Mereka tidak pernah melatih mental saat jatuh atau kalah. Jatuh dari sepeda adalah "vaksin kecil" untuk mental mereka.

2.       ​Kurang dilindungi di dunia digital.

Ibaratnya, kita melindungi anak dari goresan luka kecil di dunia nyata. Namun, kita membiarkan mereka menghadapi bahaya besar di dunia maya. Bahaya ini tidak terlihat. Orang tua sering tidak sadar anak sudah terjerat.

Contoh: Kita memberikan ponsel pribadi di usia muda. Kita tidak membatasi waktu mereka ketika bermain HP. Anak kita bebas berselancar di internet tanpa pengawasan.

Dampaknya: Anak terpapar konten berbahaya. Mereka bisa menjadi target predator online. Mereka menjadi korban perundungan digital. Mereka kecanduan game online dan media sosial. Waktu mereka habis untuk layar. Ini merampas waktu belajar, tidur, dan interaksi sosial.

​Saatnya Berubah

​Anak-anak butuh kesempatan menghadapi risiko kecil di dunia nyata. Biarkan mereka bermain. Biarkan mereka berinteraksi tatap muka. Mereka perlu belajar membaca ekspresi dan bekerja sama. Ini membentuk otak sosial mereka.

​Pada saat yang sama, kita harus menjadi "penjaga gerbang" di dunia digital. Lindungi mereka dari bahaya yang tidak kasat mata. Batasi penggunaan gawai. Awasi konten yang mereka konsumsi.

Halaman Selanjutnya
img_title