5 Dampak Kurangnya Perhatian pada Anak dan Cara Mengatasinya

perhatian dari orang tua bukan sekadar kewajiban
Sumber :
  • https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-mother-drawing-paper_14530238.htm

Parenting, VIVA MindsetSebagai orang tua, kamu pasti ingin memberikan yang terbaik untuk anakmu. Tapi di tengah kesibukan kerja, urusan rumah tangga, dan berbagai tanggung jawab lainnya, kadang kita tidak sadar bahwa anak mungkin merasa kurang mendapat perhatian. Dilansir dari laman Family Education, perhatian dari orang tua bukan sekadar kewajiban, melainkan kebutuhan dasar yang sangat penting untuk perkembangan anak. Mari kita bahas lima dampak kurangnya perhatian dan bagaimana cara mengatasinya dengan praktis.

img_title Membaca Fiksi Sejak Dini agar Anak Paham Bencana Bukan Cuma Berita yang Cukup Dihadapi dengan Mindfulness

 

1.      Gangguan Ikatan Emosional dan Kepercayaan Dasar

img_title Mengenal Bullying pada Anak: Jenis, Dampak terhadap Kesehatan Mental, dan Cara Mencegahnya

Pada bayi dan balita, kurangnya perhatian dapat menghambat ikatan emosional (attachment) yang sehat. Tanpa interaksi yang hangat dan konsisten, anak berisiko mengalami "insecure attachment" yang berdampak jangka panjang.

Contohnya, anak mungkin akan kesulitan mempercayai orang lain, selalu merasa cemas saat ditinggal, atau sebaliknya menjadi terlalu mandiri dan enggan meminta bantuan. Ini akan memengaruhi kemampuan mereka membangun hubungan yang sehat di masa depan.

img_title Mengenal Ms. Rachel dan Metode Viralnya dalam Membantu Speech Delay Anak

2.      Masalah Akademik dan Kognitif

Anak yang kurang mendapat perhatian sering mengalami kesulitan belajar dan masalah perilaku di sekolah. Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya stimulasi dan interaksi positif dari orang tua dapat menghambat perkembangan fungsi eksekutif otak: kemampuan untuk fokus, mengingat, dan menyelesaikan masalah.

Misalnya, anak mungkin sulit berkonsentrasi saat pelajaran, mudah menyerah ketika menghadapi tugas yang sulit, atau menunjukkan prestasi akademik yang tidak sesuai dengan kemampuan sebenarnya.

3.      Kesulitan Mengatur Emosi

Anak yang kurang perhatian sering kesulitan mengelola emosinya. Mereka mungkin mudah marah, sering tantrum, atau sebaliknya menjadi sangat pendiam dan menarik diri.

Hal ini terjadi karena anak belajar mengatur emosi melalui interaksi dengan orang tua. Kalau orang tua jarang merespon atau membantu anak memahami perasaannya, anak tidak belajar cara yang sehat untuk mengekspresikan dan mengelola emosi.

4.      Masalah Harga Diri dan Kepercayaan Diri

Perhatian positif dari orang tua adalah "bahan bakar" untuk membangun harga diri anak. Tanpa pujian, pengakuan, dan dukungan yang cukup, anak bisa merasa tidak berharga atau tidak cukup baik.

Ini bisa terlihat dari anak yang selalu meragukan kemampuannya, takut mencoba hal baru, atau sebaliknya menjadi perfectionist yang takut membuat kesalahan karena khawatir akan dikecewakan.

5.      Perilaku Mencari Perhatian yang Negatif

Ketika anak merasa diabaikan, mereka sering mencari perhatian dengan cara yang kurang tepat. Mereka mungkin menjadi nakal, agresif, mengganggu di kelas, atau menunjukkan perilaku mundur ke tahap perkembangan sebelumnya.

Logika anak sederhana: "Lebih baik dimarahi daripada diabaikan sama sekali." Sayangnya, ini menciptakan siklus negatif di mana orang tua semakin kesal dan anak semakin merasa tidak dicintai.

Cara Praktis Memberikan Perhatian Bermakna

-          Tunjukkan Minat Sungguh-sungguh pada Dunia Anak

Ketika anakmu bercerita tentang temannya di sekolah, game yang dimainkan, atau bahkan tentang semut yang dilihatnya di taman, dengarkan dengan antusias. Meski topiknya tampak sepele bagimu, bagi anak itu adalah hal penting yang ingin dibagikan.

Contoh: "Wah, cerita dong lebih detail tentang game yang kamu mainkan tadi. Mama penasaran, gimana cara mainnya?"

 

 

 

-          Buat Ritual dan Rutinitas Khusus

Ciptakan momen-momen sederhana tapi bermakna yang menjadi tradisi keluarga. Misalnya, membaca cerita sebelum tidur, membuat sarapan bersama di weekend, atau jalan-jalan ke taman setiap Minggu sore.

Rutinitas ini memberikan rasa aman dan menunjukkan bahwa waktu bersama anak adalah prioritas yang tidak bisa diganggu gugat.

-          Berikan Perhatian Positif, Bukan Hanya Saat Ada Masalah

Sering kali kita hanya memberikan perhatian intens saat anak berbuat salah. Sebaliknya, berilah perhatian dan pujian saat anak menunjukkan perilaku baik, meski hal kecil.

"Papa lihat kamu sabar banget nunggu giliran tadi. Papa bangga sama kamu!" Pujian spesifik seperti ini jauh lebih bermakna daripada sekadar "good job".

-          Hadir Secara Emosional Meski Fisik Sibuk

Kadang memang tidak bisa menghindari kesibukan, tapi kamu bisa tetap "hadir" secara emosional. Saat memasak sambil anak bercerita, sesekali tatap matanya dan beri respons yang menunjukkan kamu mendengarkan.

Atau saat bekerja dari rumah, bilang ke anak: "Mama lagi meeting sampai jam 3, tapi setelah itu kita main ya. Ada yang mau kamu ceritakan nanti?"

-          Manfaatkan Teknologi untuk Tetap Terhubung

Kalau harus berjauhan karena pekerjaan, manfaatkan video call, pesan suara, atau bahkan kirim foto dan voice note kecil di tengah hari. Tunjukkan bahwa meski tidak bersama, kamu tetap memikirkannya.

-          Validasi Perasaan Anak

Ketika anak mengungkapkan perasaannya, hindari langsung memberi solusi atau menyepelekan. Validasi dulu perasaannya: "Mama tahu kamu kesal ya karena mainannya rusak. Wajar kok sedih."

Setelah dia merasa dimengerti, baru tawarkan comfort atau solusi jika diperlukan.

Kamu tidak perlu merasa bersalah jika tidak bisa menghabiskan seluruh harimu dengan anak. Yang penting adalah kualitas waktu yang diberikan. 30 menit focused time dimana kamu benar-benar hadir secara mental dan emosional jauh lebih berharga daripada 3 jam tapi sambil main HP.

Memberikan perhatian yang bermakna adalah investasi terbaik untuk masa depan anakmu. Dengan merasa dicintai dan didukung, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, bahagia, dan mampu membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Mulai dari sekarang, coba terapkan satu atau dua cara di atas. Ingat, perubahan kecil yang konsisten akan memberikan dampak besar untuk perkembangan anak yang lebih baik.