Menumbuhkan Jiwa Pengusaha Pada Anak Sejak Dini
- https://pixabay.com/id/photos/ibu-dan-anak-memasak-dapur-keluarga-7031077/
Parenting, VIVA Mindset –Sadar atau tidak, banyak anak di sekitar kita tumbuh dengan mentalitas sebagai konsumen. Di rumah, anak-anak tinggal menerima hiburan dari gawai atau tontonan. Di sekolah, mereka hanya duduk diam dan menerima ilmu yang diberikan guru. Bahkan di masyarakat, anak-anak lebih sering menikmati produk daripada mencoba membuatnya.
Menurut @rumahinspirasi.id di Instagram, pola pikir ini membuat anak jadi pasif. Mereka hanya terampil menerima, bukan berinisiatif. Kemampuan yang diuji hanyalah sebatas seberapa banyak informasi yang bisa mereka serap dan hafal. Akibatnya, anak-anak kurang punya dorongan untuk berkreasi, berkarya, atau bahkan berkontribusi pada lingkungan sekitar.
Guna mengusahakan anak sejak dini menjadi pribadi yang berjiwa pengusaha, lakukan kebiasaan di bawah ini.
1. Ubah Mindset Konsumen Menjadi Produsen
Kabar baiknya, kamu punya peran besar untuk mengubah hal ini. Pintu awalnya ada di tangan orang tua. Caranya bukan hanya dengan terus "mengisi" anak dengan berbagai pengetahuan, tapi juga dengan menyalakan potensi dari dalam diri mereka.
Bagaimana memulainya?
- Berikan ruang untuk eksplorasi.
Contoh sederhana, saat anak selesai menonton film, ajak anak berdiskusi tentang "di balik layar" pembuatannya. Apa yang membuat film itu bagus? Apa tantangannya? Atau, saat kamu memasak, biarkan anak berpartisipasi, meskipun dapur jadi berantakan. Biarkan anak mencoba, mencampur, dan merasakan prosesnya.
- Ajak anak "berkreasi".
Daripada hanya membeli kue, coba ajak anak membuat kue bersama. Daripada hanya bermain gim yang sudah jadi, ajak anak memodifikasi aturan permainannya. Ajak juga anak-anak untuk menulis ulang cerita dengan akhir yang berbeda. Aktivitas ini melatih mereka untuk berpikir dan menciptakan sesuatu dari nol.
- Hargai proses, bukan hanya hasil.
Jika anakmu membuat kerajinan tangan yang hasilnya kurang sempurna, jangan langsung mengkritik. Puji usahanya, hargai proses belajarnya. Dorongan positif ini akan membuat anak berani mencoba lagi tanpa takut gagal.
- Jadilah teladan.
Ingat, anak adalah peniru ulung. Kalau kamu sendiri sibuk dengan gawaimu, anak akan menganggap itu hal yang wajar. Coba tunjukkan pada anak kalau kamu juga seorang "produsen" di rumah. Misalnya, kamu membuat hiasan dinding, menanam sayur di halaman, atau memperbaiki benda yang rusak.