Anak di Bawah Umur Ramai Pakai TikTok, Ini Risiko yang Terungkap
- https://unsplash.com/id/foto/tiga-gadis-kecil-duduk-di-lantai-dengan-ipad-mereka-bSCM5eFoiI0
Parenting, VIVA Mindset – TikTok, YouTube, dan platform sosial media lainnya mensyaratkan pengguna minimal berusia 13 tahun. Namun, sebuah studi terbaru dari UCSF menemukan bahwa banyak anak usia 11–12 tahun justru memiliki akun di platform-platform tersebut, termasuk akun yang mereka sembunyikan dari orangtua, penelitian ini menyoroti risiko kesehatan mental yang tidak bisa diabaikan.
Studi UCSF menemukan bahwa mayoritas anak usia 11–12 tahun sudah memiliki akun di TikTok, Instagram, YouTube, dan Snapchat, meski usia mereka sebenarnya masih di bawah batas minimum yang diperbolehkan. Menariknya, sekitar 6,3 persen anak bahkan mengaku sengaja menyembunyikan akun media sosial mereka dari orangtua. Tidak berhenti di situ, sekitar 25 persen anak dilaporkan kerap memikirkan media sosial sepanjang waktu, dan 25 persen lainnya menggunakannya sebagai pelarian dari masalah yang mereka hadapi.
Penelitian ini juga mencatat bahwa 17 persen anak kesulitan mengurangi penggunaan media sosial, sementara 11 persen mengaku aktivitas tersebut sudah mulai memengaruhi nilai sekolah mereka. Gejala kecanduan pun terlihat jelas sejak usia dini, mulai dari ketidakmampuan berhenti, rasa gelisah ketika tidak mengakses media sosial, hingga munculnya ketergantungan dan konflik internal. Lebih jauh lagi, studi ini menemukan kaitan erat antara penggunaan media sosial dengan meningkatnya risiko depresi, gangguan makan, ADHD, serta perilaku disruptif pada anak.
Penemuan ini menjadi panggilan penting bagi orangtua, setiap anak belum tentu terlindungi dari dampak negatif media sosial. Platform mensyaratkan umur di atas 13 tahun, tapi penegakan kebijakan itu minim. Padahal efeknya nyata dari aspek mental hingga performa akademis.
Dikutip dari The Times of India, penggunaan media sosial oleh anak-anak di bawah umur bukan hanya soal melanggar aturan, tetapi juga menyangkut kesehatan mental dan perkembangan mereka. Orangtua dan pengambil kebijakan harus bergerak untuk membentuk Family Media Plan seperti yang dianjurkan American Academy of Pediatrics untuk melindungi tumbuh kembang anak-anak dengan lebih bijak dan sehat.