5 Cara Ampuh Atasi Anak yang Menangis Saat Ditinggal
- https://www.freepik.com/free-photo/boy-crying-madly_2523624.htm
Parenting, VIVA Mindset –Pernahkah kamu merasa sedih melihat si kecil menangis histeris saat kamu harus berangkat kerja atau meninggalkannya di daycare? Atau mungkin anak balita kamu tiba-tiba jadi sangat lengket dan tidak mau ditinggal sedetik pun? Tenang, kamu tidak sendirian dalam menghadapi ini.
Dilansir dari laman Healthy Children, kecemasan perpisahan adalah fase umum pada anak, mulai bayi hingga prasekolah. Kecemasan ini muncul saat anak mulai memahami bahwa orang tua benar-benar pergi, biasanya mulai usia 4-5 bulan dan puncaknya sekitar 9 bulan. Pada balita (15-18 bulan), kecemasan makin kuat karena anak mulai mandiri tapi belum paham perpisahan bersifat sementara. Di usia prasekolah (3 tahun), anak sudah bisa memahami perasaan ini dan mungkin mencoba berbagai cara agar orang tua tidak pergi. Meski berat, ini tanda ikatan kuat antara anak dan orang tua. Kunci utamanya adalah membantu anak melewati fase ini dengan cara yang konsisten dan penuh kasih. Berikut 5 cara ampuh mengatasinya.
1. Ciptakan Rutinitas Perpisahan yang Konsisten
Buatlah ritual perpisahan yang sama setiap hari agar anak merasa aman dan tahu apa yang akan terjadi. Misalnya, tiga kali cium di pipi, pelukan panjang sambil berbisik "Mama sayang kamu", atau memberikan mainan kesayangan sebelum berpisah. Konsistensi ini memberikan rasa kontrol kepada anak. Mereka tahu apa yang akan terjadi dan kapan, sehingga kecemasan berkurang karena tidak ada kejutan yang menakutkan.
2. Ucapkan Selamat Tinggal dengan Tegas dan Cepat
Ini mungkin bagian tersulit bagi kamu sebagai orang tua. Melihat anak menangis pasti membuat kamu ingin kembali dan menenangkan mereka lebih lama. Tapi justru inilah yang akan memperpanjang kecemasan anak.
Jika kamu terlalu lama mengulur waktu atau bolak-balik kembali saat anak masih menangis, kamu tanpa sadar mengajarkan mereka bahwa tangisan bisa membuat kamu tidak jadi pergi. Ucapkan selamat tinggal dengan penuh kasih, lalu pergi dengan mantap.
3. Gunakan Bahasa Waktu yang Anak Pahami
Jangan bilang "Mama pergi sebentar ya" karena konsep waktu anak berbeda dengan orang dewasa. Sebentar bagi kamu bisa jadi selamanya bagi mereka. Sebagai gantinya, berikan informasi kapan akan kembali dalam istilah yang mudah dimengerti.
Contohnya: "Mama akan kembali setelah kamu tidur siang dan bangun," atau "Papa pulang setelah kamu main, makan siang, terus tidur siang." Ini membantu membangun kepercayaan anak bahwa kamu akan benar-benar kembali.
4. Lakukan Latihan Perpisahan Sebelum Situasi Baru
Sebelum anak mulai sekolah atau daycare baru, luangkan waktu untuk mengenalkan situasi dan berlatih perpisahan. Ajak anak berkunjung ke tempat baru tersebut, kenalkan dengan pengasuh atau guru, dan coba tinggalkan mereka untuk periode singkat terlebih dahulu.
Latihan ini seperti vaksin"untuk kecemasan mereka, memberikan exposure dalam dosis kecil sehingga saat situasi sebenarnya tiba, mereka sudah lebih siap.
5. Berikan Perhatian Penuh Sebelum Berpisah
Saat akan berpisah, berikan full attention kepada anak. Matikan HP, duduk sejajar dengan tinggi mereka, dan berikan kasih sayang yang tulus. Biarkan mereka merasakan cinta kamu sepenuhnya sebelum kamu pergi.
Ini seperti "mengisi tangki emosional" mereka dengan cinta, sehingga mereka punya "bekal" untuk bertahan sampai kamu kembali.
Hal yang Perlu Dihindari
- Jangan pergi diam-diam: Meskipipun sepertinya lebih mudah, pergi tanpa pamit justru akan merusak kepercayaan anak dan membuat kecemasan mereka semakin parah.
- Jangan berjanji yang tidak realistis: Hindari janji seperti "Mama nggak akan pernah ninggalin kamu lagi" karena ini tidak mungkin dan akan membingungkan anak.
- Jangan marah atau frustrasi: Reaksi negatif kamu hanya akan menambah beban emosional anak yang sudah cemas.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Jika kecemasan perpisahan tidak kunjung membaik setelah usia prasekolah, atau anak menunjukkan kesulitan yang sangat besar dan persistent setiap kali berpisah, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau psikolog anak.
Tanda-tanda yang perlu diwaspadai:
- Kecemasan berlangsung berbulan-bulan tanpa perbaikan
- Anak mengalami gejala fisik seperti sakit perut atau muntah saat akan berpisah
- Kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau perkembangan sosial anak
Kecemasan perpisahan adalah tanda bahwa anak kamu memiliki ikatan yang sehat denganmu. Ini bukan kegagalan dalam pengasuhan, tapi justru bukti bahwa bonding kalian kuat.
Dengan pendekatan yang tepat, konsistensi, dan banyak kasih sayang, anak akan belajar bahwa mereka bisa mandiri dan percaya diri menghadapi perpisahan kecil dalam kehidupan sehari-hari. Setiap anak punya timeline yang berbeda, jadi bersabarlah dan percaya pada proses ini.
Yang terpenting, jaga kesehatan mental kamu juga. Melihat anak menangis memang berat, tapi ingat bahwa kamu sedang mengajarkan mereka keterampilan hidup yang berharga, kemampuan untuk merasa aman meski tidak selalu bersama orang yang dicintai.