Bukti Nyata Ketimpangan Kualitas Cowok dan Cewek lewat 2 Season Better Late than Single
- https://x.com/SBS_star/status/2072173730986692982?s=20
Tren, VIVA Mindset –Acara kencan asal Korea Selatan, Better Late Than Single, kembali jadi perbincangan usai musim keduanya tayang di Netflix. Alih-alih semakin menunjukkan keseimbangan antara peserta pria dan wanita, acara ini justru dinilai kembali mengulang pola yang sama seperti musim pertama, yakni peserta wanita yang jauh lebih matang, komunikatif, dan menarik dibandingkan peserta pria.
Dilansir dari MyDramaList, pola ini bahkan sudah disoroti banyak penonton sejak musim pertama tayang pada Juli 2025 silam, dan kembali terulang ketika musim kedua mulai tayang pada 2026.
Sekilas Soal Konsep Acara Better Late Than Single
Berdasarkan laman Rotten Tomatoes, Better Late Than Single mengikuti sekumpulan lajang yang tinggal bersama selama sembilan hari di sebuah resor bernama Eternal Singles, lengkap dengan sesi makeover dan bimbingan kencan dari para pembawa acara. Sepanjang program, para peserta diajak menjalani berbagai sesi kencan sembari mencari koneksi yang tulus satu sama lain.
Acara ini turut menghadirkan sejumlah figur publik sebagai pembawa acara yang ikut menonton dan mengomentari jalannya acara, di antaranya Seo In-guk, Kang Han-na, Lee Eun-ji, dan Car The Garden. Konsep inilah yang membuat Better Late Than Single dinilai berbeda dari acara kencan Korea lainnya seperti Single's Inferno, karena lebih menonjolkan sisi canggung dan jujur dari para peserta yang belum pernah berpacaran sebelumnya.
Season 1 Sudah Lebih Dulu Disorot Soal Ketimpangan Ini
Menurut ulasan di laman MyDramaList, masalah utama musim pertama justru terletak pada peserta pria. Para peserta wanita dinilai cantik, tulus, dan cukup normal, ditambah dengan keberanian mereka keluar dari zona nyaman, berkomunikasi secara terbuka, dan berusaha keras membangun koneksi dengan lawan bicaranya.
Sementara itu, ulasan yang sama menyebut peserta pria musim pertama nyaris tidak memiliki kemampuan berkomunikasi, tidak punya taktik pendekatan, dan kesulitan menangkap sinyal paling jelas sekalipun dari lawan bicaranya. Kondisi ini disebut membuat penonton merasa kasihan pada para peserta wanita, mengingat itu adalah pengalaman kencan pertama mereka namun pilihan yang tersedia dinilai kurang seimbang.