James Blake, Ludwig Göransson, dan Travis Scott Menutup The Odyssey Dengan Sebuah Mahakarya
- https://media.pitchfork.com/photos/6a5a423473ff020926f43d60/2:1/w_2560%2Cc_limit/james-blake-travis-scott-odyssey-end-credits-song.jpg
Film, VIVA Mindset –Tidak semua film berakhir ketika layar mulai menggelap. Beberapa justru meninggalkan kesan paling kuat melalui musik yang mengiringi credit title. Hal itu terlihat pada The Odyssey garapan Christopher Nolan yang menempatkan lagu When I'm Home sebagai penutup perjalanan Odysseus. Lagu tersebut lahir dari kolaborasi tiga musisi dengan latar belakang yang sangat berbeda yakni Ludwig Göransson, James Blake, dan Travis Scott.
Kolaborasi ini bukan sekadar menghadirkan nama besar dalam satu proyek. Dilansir dari Film Music Reporter, When I'm Home merupakan lagu orisinal yang ditulis bersama Ludwig Göransson, James Blake, Travis Scott, serta Christopher Nolan sendiri untuk menjadi penutup album The Odyssey Original Motion Picture Soundtrack. Kehadiran lagu tersebut menjadi satu satunya karya dalam soundtrack yang mempertemukan musisi di luar komposer utama sehingga memiliki posisi yang sangat istimewa dalam keseluruhan album.
Ludwig Göransson selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu komposer film paling berpengaruh di industri. Setelah sukses menggarap Black Panther, Tenet, hingga Oppenheimer, ia kembali dipercaya Christopher Nolan untuk menghidupkan dunia yang terinspirasi dari epos karya Homer. Dilansir dari Classic FM, Göransson tidak memilih pendekatan orkestra modern seperti kebanyakan film epik. Sebaliknya ia melakukan riset mengenai instrumen yang memiliki kedekatan dengan era Bronze Age agar identitas musikal film terasa lebih autentik.
Pendekatan tersebut menghasilkan proses produksi yang tidak biasa. Dilansir dari MusicRadar, Ludwig Göransson mengumpulkan sekitar tiga puluh lima gong berbahan perunggu karena logam tersebut dianggap mewakili material yang digunakan pada masa Bronze Age. Ia juga merekam berbagai bunyi benturan logam, tembok, pagar, hingga material lain untuk membangun tekstur suara yang berbeda dari musik film konvensional.
Masih dikutip dari Classic FM, Göransson juga menggunakan instrumen berdawai berukuran besar yang terinspirasi dari lyre kuno. Bunyi instrumen tersebut dirancang untuk menggambarkan karakter busur milik Odysseus yang menjadi simbol penting dalam kisahnya. Selain itu vokal diposisikan sebagai bagian dari komposisi, bukan sekadar pelengkap lagu sehingga mampu menghadirkan dimensi emosional yang lebih dalam.