Silaturahmi dan Batasan, Lebaran Ajarkan Anak Tetap Nyaman di Tengah Pertanyaan ‘Klasik’ Dari Keluarga

Suasana silaturahmi idul fitri
Sumber :
  • https://untar.ac.id/2024/04/09/tradisi-lebaran-silaturahmi-hingga-ketupat-dan-rendang/

Parenting, VIVA Mindset – Hari Raya Idul Fitri identik dengan tradisi silaturahmi dan berkumpul bersama keluarga besar. Dalam suasana hangat tersebut, anak anak biasanya menjadi pusat perhatian, mulai dari disapa, diajak berbincang hingga menerima berbagai pertanyaan dari anggota keluarga.

img_title Jangan Langsung Panik! ini Cara Merawat Bayi Kena Flu di Rumah Agar Si Kecil Tetap Nyaman

Namun, dibalik kehangatan itu, tidak sedikit anak yang merasa tidak nyaman dengan pertanyaan pertanyaan yang dianggap ‘klasik’. Pertanyaan seperti ‘sudah pintar apa ?’, ‘kok kurus banget ?’, atau bahkan membandingkan dengan sepupu lain bisa memicu rasa tidak percaya diri pada anak.

Psikolog perkembangan anak menjelaskan bahwa pengalaman sosial seperti ini dapat memengaruhi kondisi emosional anak, terutama jika terjadi berulang. Anak yang belum mampu mengekspresikan perasaan dengan baik cenderung memendam ketidaknyamanan tersebut, yang dalam jangka panjang dapat berdampak pada kepercayaan diri mereka.

img_title Ciri-Ciri Anak Kena Flu Singapura dan Bedanya dengan Cacar Air, Orang Tua Wajib Tahu!

Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa silaturahmi tidak hanya soal bertemu keluarga, tetapi juga tentang menjaga kenyamanan psikologis anak. Orang tua perlu hadir sebagai pelindung sekaligus pendamping dalam situasi sosial yang ramai seperti saat Lebaran.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah mengenalkan konsep batasan atau boundaries kepada anak sejak dini. Anak perlu memahami bahwa mereka memiliki hak untuk merasa nyaman dan tidak harus menjawab semua pertanyaan yang membuat mereka tidak nyaman.

img_title Anemia pada Remaja Putri: Apa Sih Pengaruhnya di Masa Depan?

Konsep ini berkaitan erat dengan body autonomy atau kedaulatan atas diri sendiri. Dalam konteks sederhana, anak diajarkan bahwa mereka berhak menentukan bagaimana mereka ingin diperlakukan, termasuk dalam interaksi sosial sehari-hari.

Misalnya, ketika anak tidak ingin dipeluk atau dicium oleh kerabat, orang tua sebaiknya tidak memaksa. Sebaliknya, berikan alternatif seperti melambaikan tangan atau berjabat tangan sebagai bentuk penghormatan yang tetap sopan.

Selain itu, orang tua juga dapat mempersiapkan anak sebelum menghadiri acara keluarga. Dengan memberikan gambaran situasi yang akan dihadapi, anak menjadi lebih siap secara mental dan tidak merasa terkejut saat berinteraksi dengan banyak orang.

Orang tua juga dapat melatih anak untuk merespons pertanyaan dengan cara yang sederhana dan sopan. Misalnya, anak bisa diajarkan menjawab singkat atau mengalihkan pembicaraan tanpa harus merasa tertekan.

Halaman Selanjutnya
img_title