The Panturas dan Eksistensi Musik Surf Rock di Indonesia
- https://thepanturas.com/gallery/
Musik, VIVA Mindset – Surf rock lahir di California Selatan pada akhir 1950-an hingga pertengahan 1960-an. Musik ini identik dengan dentuman gitar penuh reverb, musik pantai, dan surfing. Nama besar seperti Dick Dale, The Ventures, Jan & Dean, serta The Beach Boys menjadikan genre ini simbol gaya hidup pantai Amerika.
Namun, siapa sangka, puluhan tahun kemudian, semangat surf rock justru menemukan rumah baru di Indonesia, tepatnya di Jatinangor. Dari kota kecil itu, lahirlah The Panturas, band surf rock yang kini menjadi salah satu band independen paling berpengaruh di Asia Tenggara.
Dari Pantai California ke Budaya Pop
Surf rock awalnya berkembang di tengah kegelisahan anak muda Amerika era Perang Dingin. Musik ini menjadi cultural symbol yang merepresentasikan kebebasan remaja California. Musik ini banyak muncul di film, seni, hingga jadi bagian dari folklore Amerika. Lagu ikonik seperti Miserlou (Dick Dale) bahkan mendunia lewat film Quentin Tarantino.
Gelombang Surf Rock dari Nusantara
The Panturas, band surf rock asal Jatinangor, terbentuk pada 2016 dengan personel Abyan Nabilio, Rizal Taufikurrohman, Bagus Patria, dan Surya Fikri. Nama mereka terinspirasi dari The Ventures sekaligus jalur Pantura Jawa. Sejak debut Fisherman’s Slut (2016), mereka dikenal membawa nuansa pantai ke musik urban. Album Mabuk Laut (2018) menegaskan identitas mereka, sementara Ombak Banyu Asmara (2021) menunjukkan eksplorasi yang lebih matang.
Terbaru, EP Galura Tropikalia (2024) memadukan surf rock dengan musik Sunda, gypsy jazz, hingga disco-pop, dengan single Lasut Nyanggut dengan bahasa Sunda sebagai bukti keberanian mereka mengakar lokal sekaligus mendunia.
Eksistensi yang Mendunia
Eksperimen musikal ini membuahkan hasil. The Panturas kini memiliki lebih dari 1,4 juta pendengar bulanan di Spotify dan ratusan ribu pengikut di media sosial. Mereka juga masuk nominasi Anugerah Musik Indonesia (AMI) dan telah tampil di Fuji Rock Festival 2025 di Jepang, salah satu festival musik terbesar dunia.
Eksistensi The Panturas membuktikan bahwa surf rock bukan sekadar musik nostalgia California. Di tangan mereka, genre ini bertransformasi menjadi medium lintas budaya, menghubungkan suara reverb ala Dick Dale dengan gamelan Sunda, menautkan semangat pantai dengan imaji Pantura.