Dampak Terpengaruh Teman Sebaya pada Anak dan Cara Menghadapinya
- https://unsplash.com/id/foto/sekelompok-besar-anak-sekolah-bersenang-senang-di-alam-fokusnya-adalah-pada-latar-belakang-1eUkHl0rXug
2. Ajarkan anak mengenali mana pengaruh yang baik dan mana yang buruk. Orang tua bisa membantu anak memahami bahwa tidak semua ajakan dari teman harus diikuti. Diskusi tentang nilai-nilai keluarga, konsekuensi, dan bagaimana menolak dengan tegas tapi sopan sangat berguna.
3. Latih kemampuan berkata “tidak” dengan percaya diri. Peran orang tua di sini adalah memberi contoh, memberi kata-kilat yang bisa dipakai anak, atau bahkan latihan lewat role-play agar dia tahu bagaimana menolak tanpa merasa bersalah atau takut kehilangan teman.
4. Perkuat rasa percaya diri dan identitas diri. Anak yang punya rasa percaya diri yang kuat serta tahu apa yang penting baginya cenderung lebih tahan terhadap tekanan negatif dari teman. Orang tua bisa dukung lewat pujian atas usaha, bukan hanya hasil, dan memperkuat nilai-nilai diri anak.
5. Libatkan figur dewasa terpercaya. Bila anak menghadapi tekanan besar atau situasi yang membuat dia bingung, adakan channel untuk bicara, bisa orang tua, guru, konselor, atau tokoh yang mereka hormati.
Pengaruh teman memang tidak bisa dihindari dalam pertumbuhan anak, tapi orang tua tidak harus pasif. Dengan mendeteksi tanda-tanda lebih awal, menjaga komunikasi tetap terbuka, melatih anak berani berkata “tidak”, dan memperkuat rasa percaya diri mereka, anak bisa belajar memilih jalan yang cocok dengan dirinya. Pengaruh teman tidak harus jadi bahaya jika dibingkai dalam konteks dukungan dan nilai yang sehat.