10 Cara Atasi Anak Keras Kepala

Anak yang keras kepala butuh didengarkan kemauannya
Sumber :
  • https://pixabay.com/id/photos/anak-laki-laki-emosi-menangis-991230/

Parenting, VIVA Mindset – Frustrasikah kamu saat menghadapi anak yang tidak mau mendengarkan? Anak usia 6-9 tahun menurut hellosehat.com, sedang mengalami perkembangan kognitif, sosial, emosi dan fisik. Sikap keras kepalanya itu karena ingin mendapat perhatian.

img_title Wajib Tahu! Cara Asyik Ajari Anak Menulis dan Berhitung

Hadapilah dengan cara menanggapi luapan emosinya. Pakailah cara-cara mengatasi anak keras kepala di bawah ini.

1. ​Dengarkan Pendapatnya

img_title Seni Mengajar Tanpa Membuat Anak Tertekan

Kuncinya komunikasi. Dekatilah anak dan dengarkan kemauannya. Dia akan merasa penting dan menjadi lebih tenang tanpa melawan.

2. Tidak Memaksa

img_title Membangun Kebiasaan Membaca Sejak Usia Dini untuk Masa Depan Anak

Misalnya saat akan tidur anak bermain HP. Jangan langsung dilarang tetapi cari tahu daya tarik tontonannya. Setelah itu beri pengertian bahwa sudah waktunya tidur.

3. Biarkan Anak Memilih

Anak yang keras kepala biasanya tidak suka diperintah. Memberi pilihan bisa membuatnya merasa memiliki kontrol. Misalnya saat anak tidak mau tidur, jangan langsung memaksanya. Tawarkan pilihan. "Mau Ayah/Ibu bacakan cerita buku yang ini, atau yang itu?" atau "Mau tidur sekarang, atau 5 menit lagi setelah kamu bereskan mainan?" Cara ini membuat anak merasa dihargai.

4. Hadapi dengan Tenang

Kemarahan hanya akan membuat anak semakin melawan. Kunci menghadapi anak keras kepala adalah tetap tenang dan sabar. Misalnya ketika anak mulai tantrum atau membangkang, ambil napas dalam-dalam. Hindari berteriak atau membentak. Jika perlu, menjauhlah sejenak untuk menenangkan diri, lalu dekati anak kembali dengan kepala dingin.

5. Biarkan Anak Belajar dari Pengalaman

Kadang, melarang dengan kata-kata saja tidak cukup. Anak akan lebih mengerti jika mereka merasakan sendiri konsekuensinya. Misalnya kamu melarang anak main air karena licin dan takut terpeleset. Tapi, dia tetap tidak mau mendengarkan. Biarkan saja. Ketika dia benar-benar terpeleset, dia akan menyadari alasan mengapa kamu melarangnya. Setelah itu, kamu bisa mengajaknya bicara dengan lembut tentang bahayanya.

6. ​Ajak Anak Bekerja Sama

Mengajak anak bekerja sama jauh lebih efektif daripada menyuruhnya. Gunakan kalimat yang lebih ajakan, bukan perintah. Daripada bilang, "Ayo, bereskan mainanmu sekarang!", coba katakan, "Bagaimana kalau kita bereskan mainan ini bersama-sama, setelah itu kita bisa nonton film kesukaanmu." Kalimat seperti ini membuat anak merasa sebagai tim, bukan bawahan.

7. ​Ajak Berdiskusi

Tidak semua kemauan anak harus dituruti. Ajaklah berdiskusi agar anak belajar mempertimbangkan. Misalnya si kecil minta dibelikan es krim. Coba diskusikan manfaat es krim baginya terlebih dahulu. Ada kemungkinan setelah berdiskusi denganmu dia akan memilih jenis minuman yang lain.

8. Buatlah Lingkungan yang Menyenangkan

Lingkungan yang menyenangkan dan memberi contoh yang baik membuat anak nyaman. Anak dapat mengelola emosinya juga. Namun jika orangtua sering bertengkar, berteriak-teriak, membuatnya tidak nyaman dan menjadi keras kepala.

9. Pahami Cara Berpikirnya

Anak yang keras kepala mungkin memiliki alasan di balik sikapnya. Coba pahami sudut pandangnya. Misalnya anak tidak mau mengerjakan PR, jangan langsung memarahinya. Tanyakan, "Kenapa kamu belum mau kerjakan PR-nya? Ada yang sulit, ya?" Ajak dia berdiskusi dan tawarkan bantuan. Bisa jadi, dia memang kesulitan dan merasa malu untuk bilang.

10. Berperilaku Baik

Jangan gunakan kekerasan fisik padanya. Misalnya mencubitnya ketika dia tidak mau makan. Hal ini akan diserap dalam ingatan dan dilakukan di masa depan. Maka biasakan berlaku baik agar anak mencontohnya.

Mendidik anak yang keras kepala memang butuh kesabaran ekstra. Pendekatan yang tepat dapat mengatasi sikapnya. Sekaligus membangun hubungan yang lebih kuat dan penuh kasih sayang dengannya. Jadilah contoh yang baik dan terus berikan dukungan.