Waspada! Kebiasaan Bernapas Lewat Mulut Bisa Ubah Bentuk Wajah Anak
- https://www.pexels.com/photo/toddler-with-red-adidas-sweat-shirt-783941/
Parenting, VIVA Mindset –Kebiasaan bernapas lewat mulut yang sering dianggap sepele ternyata dapat memicu masalah kesehatan serius, terutama pada anak-anak. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat mengganggu posisi gigi, pertumbuhan rahang, bahkan mengubah bentuk wajah.
Dokter gigi spesialis ortodontis dari Bethsaida Hospital Dental Center, drg. Fauzia Adhiwidyanti, Sp.Ort., menjelaskan bahwa bernapas melalui mulut biasanya terjadi ketika aliran udara melalui hidung berkurang akibat gangguan pernapasan.
“Kebiasaan ini bisa berlangsung tanpa disadari. Jika terjadi terus-menerus, risikonya antara lain kelainan posisi gigi dan rahang,” ujar Fauzia dalam diskusi kesehatan di Jakarta, Senin, 1 September 2025. Seperti dikutip dari antaranews.com
Beberapa faktor yang dapat memicu anak bernapas melalui mulut antara lain:
- Alergi dan sinusitis
- Pilek yang berkepanjangan
- Pembesaran amandel yang menghalangi saluran pernapasan
- Bentuk rongga hidung sempit yang membuat udara sulit mengalir
Kondisi tersebut dapat menyebabkan lengkung gigi atas menyempit, gigi maju, gigitan terbalik pada gigi belakang, hingga gigitan terbuka di depan yang membuat anak kesulitan mengunyah.
Selain memengaruhi susunan gigi, mulut yang sering terbuka menyebabkan mulut menjadi kering karena berkurangnya air liur. Hal ini meningkatkan risiko gigi berlubang dan penyakit gusi.
Yang lebih mengkhawatirkan, kebiasaan ini dapat memengaruhi bentuk wajah. Fauzia menjelaskan bahwa anak yang bernapas lewat mulut berisiko mengalami pemanjangan sepertiga bawah wajah atau yang dikenal sebagai long face.
Orang tua sebaiknya memperhatikan tanda-tanda berikut pada anak:
- Tidur dengan mulut terbuka
- Sering mendengkur
- Wajah tampak lebih panjang dari normal
- Suara terdengar sengau ketika berbicara
Fauzia menekankan pentingnya deteksi dan penanganan dini agar pertumbuhan gigi dan wajah tetap optimal. Penanganan dapat meliputi:
- Perawatan ortodontik untuk memperbaiki posisi gigi
- Latihan pernapasan untuk mengembalikan kebiasaan bernapas melalui hidung
- Kolaborasi dengan dokter THT bila ada gangguan medis yang mendasari
“Dengan penanganan sejak dini, bukan hanya fungsi gigi yang membaik, tetapi juga kualitas tidur, bentuk wajah, serta kesehatan mulut secara keseluruhan,” tegas Fauzia.