Waspada! Kekurangan Zat Besi Bisa Turunkan IQ Anak

Ilustrasi anak-anak sedang makan.
Sumber :
  • https://www.pexels.com/photo/three-toddler-eating-on-white-table-1001914/

Parenting, VIVA MindsetIkatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperingatkan masyarakat mengenai bahaya kekurangan zat besi pada anak. Kondisi ini dapat menurunkan IQ, menghambat pertumbuhan, hingga menyebabkan gangguan perkembangan yang bersifat permanen apabila tidak segera ditangani.

img_title Cara Mengatasi Anak Susah Makan dan GTM: Panduan Aturan Feeding Rules IDAI

Ketua Umum IDAI, dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), mengatakan kekurangan zat besi atau anemia defisiensi besi (ADB) masih banyak terjadi pada anak di Indonesia. “Ini sebenarnya kondisi yang bisa dicegah. Namun apabila tidak terdeteksi atau tidak diatasi dengan baik, dampaknya bisa sangat merugikan anak di masa depannya,” ujarnya dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa, 2 September 2025. Seperti dikutip dari antaranews.com

Zat besi berperan penting dalam pembentukan sel darah merah dan mendukung perkembangan otak. Kekurangannya dapat mengakibatkan penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, masalah motorik, hingga gangguan penglihatan dan pendengaran.

img_title Terlalu Sering Membentak Anak? Ini Dampak Buruk bagi Otak dan Solusi Memperbaikinya

Piprim menyarankan orang tua memberikan protein hewani secara rutin. “Tidak perlu mencari bahan makanan yang mahal, hati ayam, daging sapi, telur, atau ikan adalah sumber zat besi yang sangat baik,” katanya.

Bila anak sudah mengalami kekurangan zat besi, maka harus diberikan suplemen zat besi. Terapi umumnya berlangsung selama dua hingga enam bulan. Namun, banyak orang tua menghentikan pengobatan sebelum tuntas karena merasa bosan. Piprim menegaskan pentingnya menyelesaikan terapi sampai selesai agar anak benar-benar pulih.

img_title Memahami Akar Masalah Kehilangan Motivasi Belajar Anak

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Hematologi Onkologi IDAI, Prof. Dr. dr. Harapan Parlindungan Ringoringo, Sp.A, Subsp.H.Onk (K), memaparkan data bahwa prevalensi anemia pada anak usia 6–59 bulan secara global pada 2019 mencapai 39,8 persen, sementara di Indonesia mencapai 38,5 persen, mayoritas disebabkan oleh ADB.

“Dampaknya sangat luas, mulai dari gangguan perkembangan motorik, penurunan kemampuan kognitif, gangguan perilaku, gangguan pendengaran, hingga gangguan mielinisasi yang bersifat ireversibel,” ungkapnya.

 

IDAI menekankan pentingnya kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, dan media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pencegahan anemia pada anak. Hal ini penting untuk memastikan Indonesia dapat mencetak Generasi Emas 2045 yang sehat, cerdas, dan produktif.