Terlalu Melindungi Bukan Berarti Terlalu Menyayangi: Mengenal Overparenting dan Dampaknya pada Anak

Overparenting
Sumber :
  • https://i.pinimg.com/1200x/91/20/21/9120

Gaya Hidup, VIVA MindsetDi era ketika informasi tentang pola asuh semakin mudah di akses, banyak orang tua berusaha menjadi versi terbaik bagi anaknya. Mereka ingin memastikan anak selalu aman, bahagia, dan memiliki masa depan yang cerah. Namun, tanpa disadari, keinginan untuk selalu membantu dan melindungi justru bisa berubah menjadi overparenting atau pola asuh yang terlalu berlebihan.

img_title Kenapa Anak Sering Mengamuk Saat Diminta Berhenti Bermain?

Overparenting bukan berarti orang tua kurang menyayangi anak. Justru sebaliknya, perilaku ini sering muncul karena rasa cinta yang sangat besar. Sayangnya, jika dilakukan terus-menerus, anak bisa kehilangan kesempatan untuk belajar menghadapi tantangan, mengambil keputusan, dan membangun rasa percaya diri.

Apa itu Overparenting?

img_title Mengapa Anak Sering Mengulang Pertanyaan yang Sama? Ternyata Ada Manfaatnya

Overparenting adalah kondisi ketika orang tua terlalu banyak terlibat dalam kehidupan anak, bahkan pada situasi yang sebenarnya sudah mampu mereka hadapi sendiri. Misalnya, langsung menyelesaikan PR anak, selalu berbicara mewakili anak, atau buru-buru menolong setiap kali anak mengalami kesulitan.

Niatnya memang baik, yaitu agar anak tidak merasa kecewa atau gagal. Namun, ketika orang tua selalu mengambil alih, anak justru tidak memiliki kesempatan untuk belajar dari pengalaman tersebut. Seiring waktu, mereka bisa merasa bahwa dirinya memang tidak mampu melakukan sesuatu tanpa bantuan orang tua.

img_title Kapan Anak Boleh Mandi Air Dingin? Ini Penjelasan Medis dan Usia Utamanya

Dalam jangka panjang, anak dapat menjadi lebih mudah cemas ketika menghadapi tantangan baru karena terbiasa bergantung pada bantuan orang tua. Mereka juga bisa meragukan kemampuan dirinya sendiri saat harus mengambil keputusan tanpa arahan.

Mengapa Banyak Orang Tua Melakukannya?

Di tengah tuntutan zaman yang semakin kompetitif, banyak orang tua merasa harus memastikan anak selalu berada selangkah di depan. Mereka khawatir jika anak tertinggal di sekolah, kalah dari teman sebaya, atau gagal memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.

Di sisi lain, media sosial juga menghadirkan gambaran tentang “orang tua ideal” dan “anak yang selalu berprestasi”. Tanpa sadar, hal ini membuat sebagian orang tua merasa harus terus mengawasi, mengarahkan, bahkan mengatur setiap aspek kehidupan anak.

Padahal, menurut penulis dan pakar parenting Wendy Mogel, masa kanak-kanan bukanlah perlombaan yang harus dijalani tanpa hambatan. Setiap anak memiliki waktu berkembang yang berbeda, sehingga tidak semua kesulitan harus segera dihilangkan oleh orang tua.

Halaman Selanjutnya
img_title