Mengubah Momen Pascatantrum Anak Menjadi Kesempatan Emas Mempererat Ikatan Batin
- https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-laki-laki-lelaki-cinta-3933050/
Gaya Hidup, VIVA Mindset –Ledakan emosi atau tantrum pada anak kerap dianggap sebagai momok yang menyusahkan dan menguras energi bagi sebagian besar orang tua. Ketika anak selesai menangis histeris atau meluapkan kemarahannya, respons refleks banyak orang tua adalah merasa lega lalu mengabaikan kejadian tersebut begitu saja agar suasana kembali normal. Padahal momen tepat setelah badai emosi anak mereda menyimpan potensi luar biasa yang sering kali terlewatkan. Fase pascatantrum sebenarnya adalah kesempatan paling krusial bagi orang tua untuk membangun komunikasi yang mendalam serta mempererat ikatan emosional dengan buah hati.
Dilansir dari ulasan psikologi perkembangan anak, masa-masa setelah emosi anak melandai adalah saat di mana anak berada dalam kondisi paling rentan sekaligus paling terbuka untuk menerima kasih sayang. Setelah mengalami lonjakan emosi yang hebat, tubuh dan pikiran anak merasa sangat lelah sehingga bingung dengan apa yang baru saja terjadi pada diri mereka. Pakar psikologi anak menegaskan bahwa kehadiran orang tua yang hangat pada fase ini akan memberikan rasa aman yang sangat dibutuhkan oleh anak untuk memulihkan kondisi jiwanya.
Pentingnya Validasi Perasaan Anak Tanpa Rasa Menghakimi
Langkah utama dalam memanfaatkan momen pascatantrum untuk memperkuat hubungan adalah dengan memberikan validasi atas perasaan yang dialami oleh anak. Dikutip dari ulasan psikologi anak banyak anak merasa bersalah atau takut ditinggalkan setelah mereka meluapkan emosi secara berlebihan. Ketika orang tua hadir dan memberikan pelukan hangat tanpa menunjukkan wajah marah anak akan memahami bahwa kasih sayang orang tua bersifat tulus dan tidak bersyarat.
Orang tua dapat mulai mengajak anak berbicara dengan nada suara yang sangat lembut untuk membantu anak mengenali nama emosi yang baru saja dirasakannya. Mengakui bahwa perasaan marah, kecewa, lelah atau sedih adalah hal yang sangat wajar dirasakan oleh siapa saja, akan membuat anak merasa didengar dan dihargai. Proses pembelajaran emosional ini secara bertahap akan membangun kepercayaan diri anak bahwa orang tua adalah tempat berlabuh yang paling aman ketika mereka sedang tidak baik-baik saja.