Dari Macho ke Melankolis, Membaca Maskulinitas Afektif di Call Me by Your Name

Tokoh Oliver dan Elio di Film Call Me By Your Name (2017)
Sumber :
  • https://www.imdb.com/title/tt5726616/mediaviewer/rm3209178368/

Film, VIVA Mindset –Film Call Me by Your Name (2017)  karya Luca Guadagnino tidak hanya berbasis pada kisah cinta dua pria muda, melainkan menjadi eksplorasi mendalam tentang bentuk baru kelelakian. Terdapat penelitian oleh Stef Barozzi, Rodriguez Salas, dan Sanchez Espinosa yang berjudul “Call them by their name: Affective masculinities in Call Me by Your Name” dalam jurnal REIDOCREA yang merepresentasikan bagaimana film ini disebut sebagai affective masculinities berarti maskulinitas yang lembut, peka, dan emosional tanpa kehilangan jati diri gendernya.

img_title Film Indie Berbudget Minim, Untung Maksimal: Rahasia Film Murah yang Mendunia

 

Maskulinitas Baru, Lembut tapi Tidak Lemah

img_title Bongkar Anggaran Film: Aktor, Efek Visual, atau Promosi?

Penelitian ini berangkat dari kajian Critical Studies on Men and Masculinities (CSMM) yang dikembangkan oleh Raewyn Connel dan teori feminis queer. Berbeda dengan maskulinitas hegemonik yang dikenal dengan kekuatan dan dominasi, maka maskulinitas afektif berarti menekankan pada empati, kehangatan, dan kemampuan untuk menunjukkan kerentanan.

 

img_title Klub Film US$1 Miliar: Daftar Film Terlaris Dunia

Film ini terdiri dari tokoh utama Elio (Timothee Chalamet), Oliver (Armie Hammer), dan ayah Elio (Michael Stuhlbarg) menjadi contoh tiga bentuk kelelakian yang keluar dari stereotip “laki-laki keras.” Mereka bukan pahlawan macho seperti contoh Arnold Schwarzenegger (dikenal sebagai bodybuilder profesional), namun sosok yang berani menangis, mencintai, dan rasa kehilangan.

 

Cinta, Musik, dan Bahasa Tubuh sebagai Wujud Kepekaan

Sutradara Guadagnino mengganti narasi verbal dengan sinema yang “berbicara lewat diam” dalam film ini. Terdapat lagu-lagu Sufjan Stevens seperti Mystery of Love dan Visions of Gideon menjadi pengganti kata-kata cinta yang tak terucap. Ada adegan Elio menatap api di akhir film, bentuk tangisan sunyi menjadi simbol penerimaan bahwa laki-laki juga berhak berduka dan mencintai tanpa malu. Para peneliti menjelaskan penggunaan close-up, gestur lembut, dan kesunyian dalam adegan membentuk ruang emosional yang menantang norma heteronormatif.

 

Ayah Elio sebagai Model Maskulinitas Empatik

Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika ayah Elio memberikannya nasihat untuk “tidak mematikan perasaan” setelah kehilangan Oliver. Ia mengakui bahwa dirinya dulu menekan cinta dan penyesalan, sebuah refleksi atas represi maskulinitas generasi lama. Adegan dialog keduanya menjadi titik balik mengenai kelelakian bukan lagi tentang menahan air mata, namun keberanian untuk merasakan sepenuhnya.

Halaman Selanjutnya
img_title