Dead Poets Society, Puisi, Pendidikan dan Perlawanan
- https://www.rottentomatoes.com/m/dead_poets_society/pictures
Film, VIVA Mindset –Sebagai seseorang yang menyukai genre untuk membuat hati terenyuh dan menggeruk pikiran dari alur yang dibawakan, Dead Poets Society cocok untuk mengembalikan ketertarikan kalian pada film klasik tahun 1980-an.
Dirilis pada tahun 1989, film yang disutradai oleh Peter Weir dan merupakan adaptasi dari novel N.H. Kleinbaum bukan sekadar drama sekolah yang klise, namun sebagai refleksi penting tentang memahami makna pendidikan, kebebasan sesungguhnya, dan keberanian untuk melawan sistem yang mengekang.
Latar film terjadi di salah satu sekolah elite bernama Welton Academy yang terkenal dengan aturannya yang ketat. Berdiri pada empat pondasi utama yang diawali dengan tradisi, kehormatan, disiplin, dan keunggulan sebagai slogan yang tak bisa diganggu gugat. Dampak yang terjadi menghambat ruang berekspresi diri untuk para siswanya.
Alur berjalan hingga akhirnya datang Mr. John Keating (Robin Williams) sebagai guru bahasa Inggris. Karakternya yang karismatik dipadu dengan gaya mengajar yang tidak biasa, Keating berdiri pada prinsipnya sendiri untuk mengajak murid-muridnya berpikir berbeda, lepas dari kekangan aturan untuk menikmati hidup, dan mulai mengekspresikan diri secara jujur melalui menulis puisi. Carpe Diem alias Petiklah Hari menjadi penggerak semangat mereka.
Menurut salah satu penelitian dari Jurnal Pendidikan Tambusai, cerita yang dibawakan dalam Dead Poets Society menyentuh telak pada nilai humanisme dan sistem pendidikan yang otoriter.
Beberapa tokoh yang muncul terkekang dengan kebebasan mereka dalam memilih dan adanya perkembangan dari diri sendiri untuk berani dan melawan, seperti Neil Perry yang selalu terjebak dengan cita-cita menjadi aktor dari tuntutan ayahnya untuk menjadi dokter, sedangkan Todd Anderson perlahan melangkah keluar dari rasa rendah terhadap diri sendiri.
Kalian akan menemukan peran yang signifikan dari adanya klub rahasia Dead Poets Society sebagai lapang luas para siswa untuk bisa menulis puisi dengan bebas, berdiskusi tanpa batasan pemikiran, dan mencari makna hidup sesungguhnya. Ya, paham bahwa pendidikan seharusnya membebaskan, bukan membatasi.
Tentunya perlawanan tersebut tidak berjalan mulus ketika sekolah yang konservatif tersebut menanggapinya dengan keras. Konsekuensi menimpa pada tragedi menyedihkan yang menimpa Neil Perry sebagai karakter vokal yang berani mengkritik terhadap sistem pendidikan yang menolak kebebasan berpikir untuk para siswanya.