The Jeblogs, Dari Karang Taruna Desa ke Panggung Besar
- https://www.instagram.com/p/DBinaXnysiS/?img_index=12&igsh=a2YzbzJwYnE1anl1
Entertainment, VIVA Kerangka berpikir -Bayangkan sebuah band rock dengan cerita unik lahir dari Karang Taruna tingkat desa di Klaten, lalu berkembang menjadi salah satu penjawab semangat untuk musik indie lokal. Itulah kisah The Jeblogs, band asal Desa Jeblog yang beranggotakan Amir M (vokal), Valentino Mahoni (gitar), Dani Ardian (drum), Ryan Ramadhan (bass), dan Febrianto Prima (gitar).
Karang Taruna sebagai Awal Cerita
Cerita mereka dimulai pada 2014, saat Amir, Ryan, Dani, dan Jonal berkumpul dalam Karang Taruna Galur Manggala. Berbekal kemampuan musik masing-masing, mereka mulai bereksperimen bermusik di Balai Desa atau gedung PKK, karena keterbatasan dana. Semangat mereka tampil dimana saja, merekam dengan seadanya, membentuk identitas band ini sejak awal.
Nama band-nya pun reflektif, The Jeblogs, diambil dari Jeblog dan diberi akhiran āsā untuk kesan jamak dan Indonesia banget.
Rilisan & Dekade Kreatif Menuju Album
Sejak debut single Berantakan (2016), The Jeblogs terus mendorong suara mereka. Diikuti rilisan mini-album The Jeblogs (2018), lalu single Bonjour (2020), Atas Nama (2022), dan Bersandarlah (2023). Baru pada 2023, mereka merilis album penuh Sambutlah dengan delapan trek berdurasi sekitar 34 menit yang merayakan energi muda dan pengalaman hidup sehari-hari.
Album ini juga melahirkan tur bertajuk āTur Para Sisifusā yang menyambangi kota di Jawa Tengah dan DIY, tanda bahwa nama mereka sudah mulai menyebar di luar Klaten.
Menembus Panggung Festival Nasional
Perjalanan mereka semakin melesat saat tampil di Artjog (2024), kemudian masuk daftar lineup festival besar seperti Pestapora dan Synchronize Fest. Bahkan, mereka dipuji sebagai talenta lokal yang membanggakan Desa Antikorupsi, yang kelak diminta tampil dalam Festival Pariwara Antikorupsi Klaten (2025).
Kolaborasi Menembus Batas Genre
Baru-baru ini, The Jeblogs berkolaborasi dengan Lealona dalam single Sekian, Terima Kasih. Lagu pop-indie bernuansa elektronik ini memperlihatkan fleksibilitas musikal mereka secara penuh, sekaligus mengisyaratkan arah ekspansi karya ke ranah pop dan eksperimen audio baru.
Mereka tak melupakan akar baik secara simbolis maupun nyata. Meski susah, keterlibatan di Karang Taruna tetap berlanjut, karena mereka percaya pada regenerasi dan gotong royong desa.