Film FOUFO Buktikan Madura Bisa Jadi Latar Film Fiksi Ilmiah
- https://www.youtube.com/watch?v=U5W4IuVb9sY
Film, VIVA Mindset –Ketika mendengar film fiksi ilmiah tentang alien atau UFO, banyak orang mungkin langsung membayangkan kota-kota modern atau latar futuristis. Namun, anggapan itu coba dipatahkan lewat Film FOUFO, karya terbaru Bayu Skak yang menggabungkan komedi, budaya Madura, dan kisah makhluk luar angkasa dalam satu cerita.
Alih-alih menjadikan budaya lokal sebagai pelengkap, FOUFO justru menempatkan Madura sebagai identitas utama cerita. Berdasarkan rri.co.id, film ini menghadirkan kisah seorang pengepul barang rongsokan bernama Muslim yang berjuang mengumpulkan biaya agar sang ibu dapat berangkat haji. Kehidupan Muslim berubah setelah ia menemukan sebuah pesawat UFO yang jatuh di kampungnya dan bertemu dengan makhluk asing bernama Foufo.
Premis tersebut mungkin terdengar tidak biasa bagi film Indonesia. Namun, justru di situlah letak keunikan FOUFO. Film ini menunjukkan bahwa budaya lokal tidak selalu harus hadir dalam cerita sejarah, drama, atau horor, tetapi juga dapat menjadi bagian dari genre fiksi ilmiah.
Budaya Madura Menjadi Identitas Cerita
FOUFO bukan sekadar mengambil Madura sebagai latar tempat. Menurut rri.co.id, Bayu Skak menjadikan bahasa Madura sebagai bahasa utama dalam dialog film, menjadikannya salah satu film layar lebar Indonesia yang menggunakan bahasa Madura secara dominan. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya memperkenalkan budaya Madura kepada penonton yang lebih luas tanpa menghilangkan identitas aslinya.
Agar tetap dapat dinikmati oleh masyarakat dari berbagai daerah, film ini dilengkapi dengan subtitle bahasa Indonesia. Dengan begitu, penonton yang tidak memahami bahasa Madura tetap bisa mengikuti alur cerita tanpa kehilangan nuansa budaya yang ingin dihadirkan.
Tidak hanya itu, Bayu Skak juga membuka kesempatan bagi talenta dari Madura dan Jawa Timur untuk terlibat dalam produksi film. Sekitar 2.500 peserta mengikuti proses open casting, dan banyak di antaranya akhirnya mendapat kesempatan tampil sebagai pemain dalam film tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan perfilman nasional tidak harus selalu berpusat di kota-kota besar, tetapi juga dapat melibatkan potensi dari berbagai daerah.