Anime Jigoku Shoujo Ternyata masih Relevan sampai Sekarang, ini Alasannya
- https://x.com/_Bellmere2_/status/2054144154528088096?s=20
Anime, VIVA Mindset –Meski sudah tayang sejak dua dekade lalu, anime Jigoku Shoujo alias Hell Girl rupanya masih relevan untuk dibahas hingga sekarang. Pesan moral yang diusung anime produksi Studio Deen ini ternyata masih bisa dikaitkan dengan sejumlah fenomena sosial yang tengah ramai dibicarakan publik belakangan ini.
Dilansir dari Anime News Network, Jigoku Shoujo pertama kali tayang pada 2005 hingga 2006 dengan total 26 episode, sebelum dilanjutkan dengan dua musim tambahan yang tayang hingga 2009, serta musim keempat yang menyusul pada 2017.
Sekilas Soal Premis Jigoku Shoujo
Berdasarkan laman TV Tropes, Jigoku Shoujo mengikuti kisah Ai Enma, sosok yang dikenal sebagai Hell Girl, yang dapat dipanggil lewat sebuah situs misterius bernama Jigoku Tsushin atau Hotline Neraka, yang hanya bisa diakses tepat pukul 12 malam. Siapa pun yang memiliki dendam mendalam terhadap seseorang dapat mengetikkan nama orang tersebut di situs itu, dan Ai Enma akan datang menawarkan bantuan.
Namun, bantuan Ai Enma bukan tanpa harga. Begitu boneka jerami pemberiannya ditarik talinya, target dendam akan langsung diseret ke neraka saat itu juga. Sebagai gantinya, orang yang meminta bantuan tersebut juga akan menyusul masuk neraka kelak ketika ajalnya tiba, sesuai perjanjian yang telah disepakati sejak awal.
Pesan Moral, Tak Ada Balas Dendam Yang Gratis
Menurut ulasan di laman AniDB, inti cerita Jigoku Shoujo sebenarnya mengajak penonton mempertanyakan sisi moral dari balas dendam maupun keadilan yang ditegakkan sendiri. Setiap episode menampilkan sosok yang telah menderita akibat perundungan, pengkhianatan, atau kekerasan, namun harus membayar mahal demi mendapatkan keadilan yang mereka cari, yakni dengan mengorbankan jiwa mereka sendiri kelak.
Konsep inilah yang membuat Jigoku Shoujo terasa berbeda dari cerita pembalasan dendam pada umumnya. Alih-alih menghadirkan solusi instan tanpa konsekuensi, anime ini justru menegaskan bahwa keadilan yang ditegakkan di luar jalur yang semestinya akan selalu memiliki harga, betapapun besar dan menyakitkan penderitaan yang dialami korban sebelumnya.