Reparenting, Cara Berdamai dengan Inner Child yang Terluka

Bermain kembali dapat menjadi salah satu cara terhubung dengan inner child
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/wanita-bermain-main-dengan-kincir-angin-26074166/

Parenting, VIVA Mindset –Pernahkah Anda merasa terluka karena hal yang sebenarnya tampak sepele? Atau mungkin sulit mengatakan "tidak" kepada orang lain karena takut mengecewakan mereka? Ada pula yang selalu merasa dirinya kurang baik, meski telah berusaha sekuat tenaga.

img_title Orang Tua Wajib Tahu, Ini Cara Tepat Mengawasi PR Anak

Respons seperti ini terkadang bukan hanya dipengaruhi oleh situasi yang sedang dihadapi, tetapi juga berkaitan dengan pengalaman emosional di masa kecil.

Belakangan, semakin banyak orang membicarakan konsep reparenting sebagai salah satu cara untuk mengenali dan memenuhi kembali kebutuhan emosional yang mungkin belum terpenuhi saat masih anak-anak.

img_title Homeschooling atau Sekolah Formal? Ini Pertimbangannya

Mengutip Inner Melbourne Clinical Psychology, reparenting adalah proses merawat diri sendiri dengan cara yang penuh kasih, seolah memberikan perhatian, perlindungan, dan dukungan yang idealnya diterima ketika masih kecil.

Proses ini berkaitan erat dengan inner child, yaitu bagian dalam diri yang merepresentasikan pengalaman, emosi, dan kebutuhan masa kanak-kanak yang masih memengaruhi kehidupan hingga dewasa.

img_title Ayah Hadir, Anak Lebih Siap Menghadapi Masa Depan

Apa itu Reparenting?

Setiap orang pernah menjadi anak-anak. Pengalaman yang dialami pada masa itu, baik yang menyenangkan maupun menyakitkan, dapat membentuk cara seseorang memandang dirinya sendiri, menjalin hubungan dengan orang lain, hingga menghadapi berbagai tantangan ketika dewasa.

Di sinilah konsep reparenting berperan. Reparenting bukan berarti kembali mengulang masa kecil atau menyalahkan pola asuh orang tua.

Sebaliknya, proses ini mengajak seseorang untuk belajar memenuhi kebutuhan emosionalnya sendiri dengan cara yang lebih sehat.

Misalnya, seseorang yang tumbuh tanpa banyak mendapatkan validasi mungkin terbiasa mengabaikan perasaannya sendiri. Melalui reparenting, ia belajar mengakui bahwa emosinya layak didengar, dipahami, dan diterima tanpa harus merasa bersalah.

Mengapa Pengalaman Masa Kecil Bisa Terbawa hingga Dewasa?

Cara seseorang diperlakukan ketika masih kecil sering kali memengaruhi bagaimana ia memperlakukan dirinya sendiri saat dewasa.

Pengalaman yang berulang, seperti sering dikritik, diabaikan, atau merasa harus selalu menyenangkan orang lain, dapat membentuk keyakinan tertentu yang terus terbawa hingga bertahun-tahun kemudian.

London School of Clinical Communication & Hypnosis (LSCCH) menjelaskan bahwa pengalaman emosional yang belum terselesaikan dapat membuat seseorang bereaksi secara berlebihan terhadap situasi tertentu.

Misalnya, kritik kecil di tempat kerja terasa seperti penolakan besar, atau kesalahan sederhana memunculkan keyakinan bahwa diri sendiri tidak cukup baik.

Akibatnya, sebagian orang lebih mudah mengalami rasa cemas, sulit menetapkan batasan, terus berusaha menyenangkan orang lain (people pleasing), atau terlalu keras mengkritik diri sendiri.

Reaksi tersebut bukan berarti seseorang lemah, melainkan bisa menjadi tanda bahwa masih ada kebutuhan emosional yang belum benar-benar diproses.

Bagaimana Cara Memulai Reparenting?

Reparenting bukan proses yang instan. Tujuannya bukan menghapus masa lalu, melainkan membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri sedikit demi sedikit.

Salah satu langkah sederhana adalah belajar mengenali dan memvalidasi emosi yang muncul tanpa langsung menghakimi diri sendiri.

Ketika merasa sedih, marah, atau kecewa, cobalah memberi ruang untuk merasakan emosi tersebut sebelum mencari solusi.

Selain itu, penting untuk melatih self-compassion, yaitu memperlakukan diri sendiri dengan kelembutan yang sama seperti ketika kita menghibur orang yang kita sayangi.

Bagi sebagian orang, langkah ini terasa sulit karena mereka terbiasa menjadi pengkritik paling keras bagi dirinya sendiri.

Focus on the Family Indonesia juga menyebutkan beberapa latihan yang dapat membantu memulai proses reparenting.

Misalnya dengan menulis surat kepada diri sendiri saat masih kecil, membuat jurnal untuk mengenali pola emosi, berbicara kepada diri sendiri dengan kata-kata yang lebih penuh kasih, atau meluangkan waktu melakukan aktivitas yang dulu disukai ketika masih anak-anak, seperti mewarnai, menggambar, mendengarkan musik, atau bermain di alam terbuka.

Meski tampak sederhana, aktivitas tersebut dapat membantu seseorang membangun kembali rasa aman, nyaman, dan penerimaan terhadap dirinya sendiri.

Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?

Reparenting dapat menjadi salah satu cara untuk lebih memahami diri sendiri. Namun, proses ini bukan pengganti terapi, terutama jika seseorang memiliki pengalaman traumatis atau luka emosional yang cukup berat.

Apabila proses mengenali pengalaman masa kecil justru memunculkan emosi yang terasa sangat intens, mengganggu aktivitas sehari-hari, atau membuat seseorang merasa kewalahan, tidak ada salahnya mencari bantuan dari psikolog atau konselor.

Pendampingan profesional dapat membantu proses tersebut berjalan dengan lebih aman dan terarah.

Pada akhirnya, reparenting bukan tentang mengubah masa lalu karena hal itu memang tidak mungkin dilakukan. Yang bisa dilakukan adalah belajar memperlakukan diri sendiri dengan lebih penuh kasih, memberi ruang bagi emosi yang selama ini terabaikan, dan menjadi sosok yang mampu memberikan rasa aman bagi diri sendiri.

Meski membutuhkan waktu, setiap langkah kecil yang dilakukan dapat menjadi awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan diri sendiri.