Ekolalia, Mengapa si Kecil Sering Mengulang Kata?
- https://www.pexels.com/id-id/foto/seorang-gadis-kecil-menghadiri-prasekolah-6137883/
Parenting, VIVA Mindset –Pernahkah Anda bertanya kepada si kecil, "Mau minum apa?", tetapi ia justru mengulang pertanyaan tersebut tanpa memberikan jawaban? Atau mungkin anak sering menirukan ucapan orang tua, guru, hingga dialog dari tayangan favoritnya.
Perilaku seperti ini kerap membuat orang tua bertanya-tanya apakah hal tersebut merupakan bagian dari tumbuh kembang yang normal atau justru menjadi tanda adanya gangguan.
Dalam dunia medis, kebiasaan mengulang kata, frasa, atau kalimat yang didengar dari orang lain dikenal sebagai ekolalia. Mengutip Halodoc, kondisi ini tidak selalu menjadi pertanda adanya gangguan.
Pada usia tertentu, mengulang ucapan justru dapat menjadi bagian dari proses anak belajar berbicara dan memahami bahasa.
Apa itu Ekolalia dan Mengapa Bisa Terjadi?
Ekolalia adalah kondisi ketika seseorang mengulang kata, frasa, atau suara yang baru saja didengar maupun yang pernah didengarnya beberapa waktu sebelumnya.
Pengulangan tersebut dapat terjadi secara spontan dan umumnya terbagi menjadi dua jenis, yaitu ekolalia langsung, ketika anak segera mengulang ucapan yang baru didengarnya, serta ekolalia tertunda, ketika anak mengulang kata atau kalimat yang pernah didengar beberapa jam, beberapa hari, bahkan lebih lama sebelumnya.
Perilaku ini bisa muncul saat anak sedang memproses informasi atau belajar menggunakan bahasa. Ucapan yang diulang pun dapat berasal dari percakapan sehari-hari, lagu, hingga dialog dari film atau kartun yang sering ditontonnya.
Kapan Ekolalia Masih Dianggap Normal?
Orang tua tidak perlu langsung panik ketika menemukan anak sering mengulang kata. Hello Sehat menjelaskan bahwa ekolalia merupakan bagian dari perkembangan bahasa yang normal, terutama pada anak berusia di bawah 3 tahun.
Pada fase ini, anak belajar mengenali bunyi, kosakata, dan cara berkomunikasi dengan meniru ucapan orang-orang di sekitarnya.
Seiring bertambahnya usia dan kemampuan berbahasa, kebiasaan tersebut umumnya mulai berkurang.
Anak akan lebih mampu menyusun kalimatnya sendiri, menjawab pertanyaan dengan tepat, serta menyampaikan keinginan tanpa harus mengulang ucapan orang lain.
Karena itu, tidak semua anak yang mengalami ekolalia memiliki autisme. Meski kondisi ini memang cukup sering ditemukan pada anak dengan gangguan spektrum autisme (Autism Spectrum Disorder/ASD), ekolalia juga dapat muncul sebagai bagian dari perkembangan bahasa yang normal maupun berkaitan dengan kondisi perkembangan atau gangguan pada sistem saraf.
Pemeriksaan oleh tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya.
Kapan Orang Tua Perlu Waspada?
Meski dapat menjadi bagian dari perkembangan normal, orang tua sebaiknya mulai waspada apabila kebiasaan mengulang kata masih menetap setelah usia 3 tahun atau disertai kesulitan berkomunikasi lainnya.
Beberapa tanda yang perlu diperhatikan antara lain anak sulit memulai atau mempertahankan percakapan, jarang melakukan kontak mata saat berinteraksi, kesulitan memahami instruksi atau pertanyaan sederhana, serta menunjukkan perilaku berulang lain yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Selain itu, orang tua juga perlu memperhatikan apabila anak tampak frustrasi karena sulit mengungkapkan keinginannya sendiri atau perkembangan bahasa dan kemampuan sosialnya tidak sesuai dengan usianya.
Kondisi tersebut bukan berarti anak pasti mengalami gangguan tertentu, tetapi menjadi alasan yang cukup untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan evaluasi lebih lanjut.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?
Langkah pertama yang paling penting adalah tidak terburu-buru menyimpulkan bahwa anak mengalami gangguan tertentu hanya karena sering mengulang kata. Sebaliknya, amati perkembangan komunikasinya secara menyeluruh, seperti kemampuannya memahami instruksi, menjawab pertanyaan, menyampaikan keinginan, hingga berinteraksi dengan orang lain.
Saat berbicara dengan anak, gunakan kalimat yang sederhana dan jelas, beri waktu untuk merespons, serta ajak berkomunikasi dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Pendekatan seperti ini dapat membantu anak mengembangkan kemampuan bahasa secara bertahap.
Apabila ekolalia menetap, mengganggu komunikasi, atau disertai keterlambatan perkembangan lainnya, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau terapis wicara.
Melalui evaluasi menyeluruh, tenaga profesional dapat menentukan apakah anak memerlukan terapi wicara, intervensi perilaku, atau penanganan lain sesuai dengan kondisi yang mendasarinya.
Pada akhirnya, ekolalia bukanlah kondisi yang selalu perlu ditakuti. Pada sebagian anak, kebiasaan mengulang kata merupakan bagian dari proses belajar berbahasa.
Namun, jika perilaku tersebut terus berlangsung di luar usia yang diharapkan atau disertai hambatan komunikasi lainnya, pemeriksaan sejak dini dapat membantu anak memperoleh dukungan yang tepat agar kemampuan berbahasa dan berkomunikasinya berkembang secara optimal.