Bukan Manja, Ini Alasan Medis Kenapa Toddler Suka Menempel pada Ibu
- Anis Dian Wulandari/ VIVA Mindset
Parenting, VIVA Mindset –Memiliki anak usia toddler atau balita sering kali membuat orang tua harus ekstra sabar menghadapi dinamika perilakunya yang berubah-ubah.
Salah satu fase yang sering dihadapi oleh para ibu adalah ketika anak mendadak menjadi sangat manja dan sama sekali tidak mau lepas dari pelukan atau jangkauan ibunya.
Fenomena anak yang menempel layaknya prangko ini kerap disebut dengan istilah clinging behavior dalam dunia psikologi.
Sebagian orang di lingkungan sekitar mungkin akan dengan mudah menganggap bahwa perilaku ini terjadi karena pola asuh yang salah, anak yang terlalu dimanja, atau kurangnya disiplin sejak dini.
Namun, jika ditinjau dari sudut pandang medis serta psikologi perkembangan anak, kondisi ini adalah hal yang sangat wajar dan justru menjadi bagian dari fase pertumbuhan emosional yang sangat penting bagi masa depan sang anak.
Dikutip dari berbagai jurnal perkembangan anak, fase menempel ini erat kaitannya dengan teori kelekatan atau attachment theory.
Pada rentang usia 1 hingga 3 tahun, otak emosional anak sedang mengalami perkembangan serta modernisasi jaringan saraf yang sangat pesat.
Ibu adalah sosok utama yang sejak awal kehidupan memberikan rasa aman, kehangatan fisik, serta pemenuhan kebutuhan dasar yang konsisten bagi anak.
Oleh karena itu, ketika anak merasa lelah secara fisik, berada di lingkungan baru yang asing, atau merasa tidak nyaman karena kondisi tubuh tertentu, secara naluriah sistem pertahanan tubuh mereka akan mencari ibunya untuk mendapatkan regulasi emosi.
Secara medis, berada dekat dengan ibu terbukti mampu menurunkan hormon stres atau kortisol pada anak secara signifikan, sekaligus meningkatkan produksi hormon oksitosin yang memberikan rasa tenang dan damai.
Faktor Utama Penyebab Clinging Behavior
Dilansir dari rekomendasi resmi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak usia balita juga mulai menyadari bahwa diri mereka adalah individu yang sepenuhnya terpisah dari orang tuanya.
Kesadaran baru ini, di satu sisi membuat mereka ingin mandiri, namun di sisi lain justru menimbulkan kecemasan mendalam yang sering disebut dengan istilah separation anxiety atau kecemasan berpisah.