Promising Young Woman, Saltburn, hingga Wuthering Heights, Perjalanan Kritik Emerald Fennell
- https://x.com/i/status/2076066502264922123
Film, VIVA Mindset –Nama Emerald Fennell sempat menjadi salah satu sutradara paling diperhitungkan di Hollywood berkat keberaniannya mengangkat isu-isu sensitif lewat karya penyutradaraannya.
Namun perjalanan itu berbalik drastis ketika Fennell merilis Wuthering Heights pada 14 Februari 2026, adaptasi novel klasik Emily Bronte yang justru dihujani kritik dari berbagai media.
Perjalanan karier Fennell ini menarik untuk ditelusuri, mengingat betapa jauh jarak antara sambutan publik terhadap karya-karya awalnya dengan karya terbarunya.
Debut yang Berani Lewat Promising Young Woman
Fennell memulai debut penyutradaraan film panjangnya lewat Promising Young Woman pada 2020, setelah sebelumnya sempat menyutradarai film pendek Careful How You Go pada 2018.
Dikutip dari Wikipedia, ide awal Promising Young Woman muncul dari bayangan Fennell soal adegan seorang gadis mabuk yang sedang dilucuti pakaiannya sambil bertanya limbung apa yang sedang terjadi, sebelum tiba-tiba duduk dalam keadaan sadar penuh, momen yang menjadi titik tolak seluruh cerita film tersebut.
Film ini mengikuti kisah seorang perempuan yang trauma dan diam-diam berburu predator seksual di sekitarnya sebagai bentuk balas dendam akan tragedi yang menimpa sahabatnya, sebuah tema berat yang jarang diangkat sedemikian berani dan penuh sindiran gelap.
Berdasarkan laman Wikipedia, Promising Young Woman tayang perdana di Sundance Film Festival 2020 dan langsung disambut pujian kritikus, dengan skor 90 persen di Rotten Tomatoes serta konsensus kritis yang menyebutnya sebagai debut penyutradaraan yang berani dan penuh keberanian mengangkat isu terkini.
Keberanian tersebut turut berbuah penghargaan bergengsi. Fennell meraih Academy Award untuk kategori Naskah Asli Terbaik, sekaligus masuk nominasi Sutradara Terbaik dan Film Terbaik, menjadikannya salah satu dari sedikit perempuan yang pernah masuk nominasi kategori penyutradaraan di ajang Oscar, sekaligus perempuan asal Inggris pertama yang meraih pencapaian tersebut.
Meski demikian, bagian akhir film ini turut memicu perdebatan, karena dianggap sebagian pihak terlalu kelam, sesuatu yang menurut Fennell sendiri memang sengaja dipertahankan meski sempat mendapat masukan dari studio agar diubah.