Gak Main-Main! Joko Anwar Boyong Artis Kelas Atas di Film Ghost in the Cell
- https://youtu.be/otL78_pk_A0?si=KuH9jzS5K7prj-im
Film, VIVA Mindset – Industri film Indonesia kembali diguncang oleh gebrakan terbaru dari Joko Anwar. Sutradara yang dikenal lewat karya-karya atmosfersik dan berani ini kini hadir dengan proyek ambisius bertajuk Ghost in the Cell, sebuah film horor komedi yang tak hanya unik dari sisi cerita, tapi juga "gila" dari segi skala produksi hingga jajaran pemainnya.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026, bisa ditonton di jaringan bioskop besar, seperti XXI, Cinepolis, CGV, Platinum Cineplex, dan lainnya.
Bukan sekadar film horor biasa, proyek ini bahkan sudah mencuri perhatian dunia sebelum resmi tayang di bioskop. Sebelum ramai di Indonesia, film ini lebih dulu melangkah ke panggung internasional. Ghost in the Cell dijadwalkan melakukan wold premiere di Berlin International Film Festival 2026.
Salah satu festival film paling prestisius di dunia, dikenal sangat selektif, hanya memilih karya dengan kualitas artistik tinggi dan visi kuat. Film ini pun telah diakuisisi oleh 86 negara sebelum penayangannya. Hal ini menjadi bukti bahwa karya terbaru Joko Anwar kembali diakui secara internasional.
Ghost in the Cell menggabungkan genre horor dan komedi. Film ini menghadirkan ketegangan sekaligus humor gelap yang segar, berupa teror mistis yang mencekam, konflik kompleks, serta adegan absurd khas komedi Indonesia. Konsep ini menjadi daya tarik utama dan menjadi genre paling menarik belakangan ini.
Film ini membawa penonton ke sebuah penjara tua yang terisolasi, tempat di mana kekerasan, dendam, serta keputusasaan sudah menjadi makanan sehari-hari.
Di sana, para narapidana hidup dalam hierarki brutal. Ada kelompok yang berkuasa, tertindas, dan ada pula yang hanya berusaha untuk bertahan hidup hari demi hari.
Namun, di suatu malam, semuanya terasa mencekam saat seorang tahanan ditemukan tewas dalam selnya dengan kondisi mengenaskan, tanpa tanda-tanda perlawanan. Awalnya, kematian itu dianggap sebagai hal lumrah karena konflik antar napi. Tapi kemudian, kematian berikutnya terjadi, dengan pola yang sama. Lalu disusul korban berikutnya, tanpa saksi mata atau tanpa jejak yang tertinggal. Semuanya terjadi di dalam sel yang terkunci. Hingga para napi mulai sadar, bahwa ini bukan ulah manusia.