Menolak Punah: Kompetisi Ojung Digelar 2 kali Dalam Sepekan di Desa Alasrejo
- Anton Heri Laksana/ VIVA Mindset
Banyuwangi, VIVA Mindset –Pada era masa lalu, budaya ojung hanya digelar saat musim kemarau panjang melanda sebagai bagian dari tradisi meminta hujan. Namun kini, ojung menjadi budaya yang mulai kurang dikenal di kalangan masyarakat luas khususnya generasi muda.
Adalah Suwono Hardianto, seorang tokoh masyarakat Desa Alasrejo, Kecamatan Wongsorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur yang menjadi insiator.
Suwono menggelar kompetisi ojung di areal Lapangan Bola Voli Ruang Terbuka Hijau (RTH) Desa Alasrejo. Minggu, 23 Agustus 2026.
Kompetisi ojung ini sengaja digelar sebagai upaya pelestarian budaya nenek moyang yang di era sekarang ini mulai ditinggalkan.
Bahkan budaya ojung dikalangan generasi muda mulai tidak dikenal dan acap kali ditinggalkan karena dianggap kuno.
“Tujuan awal saya menggelar kompetisi ojung ini sebagai langkah pelestarian budaya. Makanya kompetisi ini akan digelar secara rutin 2 kali dalam sepekan. Setiap Hari Sabtu dan Hari Rabu,” ujar Ketua Panitia Kompetisi Ojung, Suwono Hardianto.
Pada grand opening kompetisi ojung ini, beberapa petarung ojung dari KecamatanWongsorejo serta Kecamatan lain dari Kabupaten Situbondo dan Kabupaten Bondowoso juga ambil bagian.
“Saya tidak menyangka antusias peserta ojung ini sampai ke daerah tapal kuda. Situbondo dan Bondowoso datang dan ikut bermain ojung,” tutur Suwono Hardianto pada VIVA News.
Dalam pertandingan perdana ini, petarung ojung lintas usia ambil bagian untuk membuktikan nyali sebagai petarung ojung.
“Peserta ada yang dari kalangan pemula, ada juga yang memang jawara – jawara ojung. Tapi tadi juga ada yang baru pertama kali ikut ojung,” kata Ketua Panitia Kompetisi Ojung disela – sela pertandingan ojung.
Sebagai langkah lanjutan, Suwono Hardianto akan rutin menggelar kompetisi ojung dua kali dalam sepekan guna pelestarian budaya.
Peserta yang datang dari seluruh wilayah di tapal kuda mengindikasikan kompetisi ojung yang digelar di Desa Alasrejo gaungnya sudah tersebar luas di masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Suwono Hardianto juga berharap petarung ojung bukan hanya berasal dari kalangan jawara – jawara yang sudah banyak melintasi kompetisi ojung.
Namun peserta dari generasi muda juga sangat dibutuhkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya ojung dalam jangka panjang.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Alasrejo Atmawiyanto sangat mendukung kompetisi ojung karena dinilai sangat bermanfaat bagi kalangan remaja dalam pengenalan serta pelestarian budaya nenek moyang.
“Jaman dulu ojung digelar untuk meminta hujan saat kemarau panjang. Tapi kini ojung banyak ditampilkan sebagai suguhan budaya dan tradisi,” ungkap Kades Alasrejo, Atmawiyanto pada VIVA News.
Pemdes Alasrejo juga memberikan dukungan penuh agar kompetisi ojung mampu digelar secara rutin 2 kali dalam sepekan.