Solusi Meningkatkan Keaktifan Peserta JKN, Banyuwangi jadi Lokasi Uji Coba Program NADI JKN
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Mindset
Banyuwangi, VIVA Mindset – Bagi sebagian peserta JKN, khususnya dari segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), fluktuasi penghasilan menjadi tantangan dalam memenuhi kewajiban pembayaran iuran tepat waktu. Untuk menjawab tantangan tersebut, BPJS Kesehatan meluncurkan Program NADI JKN (Menabung Demi Iuran JKN) secara nasional.
Di Banyuwangi, implementasi program ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Kepala BPJS Kesehatan Cabang Banyuwangi, Muhammad Masrur Ridwan, dan Executive Manager PT Pos Indonesia Kantor Cabang Banyuwangi, Sesaria Agung Pribadi, di Aula Kantor Pos Cabang Banyuwangi. Penandatanganan tersebut turut disaksikan oleh Deputi Direksi Wilayah VII BPJS Kesehatan, I Made Puja Yasa, serta Senior Manager PT Pos Indonesia Wilayah V, Cecep Priadi Usman.
Deputi Direksi Wilayah VII BPJS Kesehatan, I Made Puja Yasa, mengatakan Banyuwangi dipilih sebagai lokasi awal implementasi NADI JKN karena masih memiliki tantangan dalam tingkat keaktifan peserta. Menurutnya, program ini diharapkan menjadi solusi bagi peserta yang ingin menjaga kepesertaan JKN tetap aktif, namun terkendala kemampuan membayar iuran secara sekaligus.
"Saat ini cakupan kepesertaan JKN secara nasional telah mencapai hampir 98 persen, sedangkan tingkat keaktifannya sekitar 80 persen. Di Jawa Timur cakupan kepesertaan JKN sudah sekitar 97 persen dengan keaktifan 77,85 persen. Artinya, tantangan kita saat ini bukan lagi mengajak masyarakat menjadi peserta, tetapi bagaimana memastikan kepesertaan mereka tetap aktif," ujar Puja pada Selasa (04/08).
Puja menjelaskan, sebagian besar peserta yang menunggak berasal dari segmen peserta mandiri dengan penghasilan yang tidak menentu. Melalui NADI JKN, peserta dapat menyisihkan sebagian penghasilannya setiap hari, setiap minggu, maupun kapan saja sesuai kemampuan. Ketika saldo tabungan mencukupi, sistem akan secara otomatis mendebit dana tersebut untuk pembayaran iuran JKN.
"Kami memahami tidak semua peserta memiliki penghasilan tetap. Karena itu, NADI JKN memberikan fleksibilitas kepada masyarakat untuk menabung sesuai kemampuan. Dengan cara ini, peserta tidak perlu menunggu memiliki uang dalam jumlah besar untuk membayar iuran sehingga perlindungan kesehatannya tetap terjaga," jelas Puja.
Puja menambahkan, Banyuwangi dipilih sebagai pilot project karena tingkat keaktifan peserta JKN masih sekitar 53 persen, sementara cakupan kepesertaannya telah mencapai sekitar 89 persen. Ia berharap program ini dapat mendukung target pemerintah meningkatkan tingkat keaktifan peserta JKN menjadi lebih dari 80 persen sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).