KKN 09 Untag Banyuwangi Dorong UMKM Desa Watukebo Naik Kelas Lewat Digitalisasi Usaha
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Mindset
Banyuwangi, VIVA Mindset – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 09 Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Banyuwangi mendorong peningkatan daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Desa Watukebo melalui pendampingan digitalisasi usaha. Program tersebut mencakup penguatan branding produk, pemanfaatan Google Maps, implementasi sistem pembayaran digital QRIS, hingga edukasi legalitas usaha.
Pendampingan yang dilaksanakan di Dusun Krajan ini merupakan salah satu program prioritas KKN setelah mahasiswa melakukan observasi dan mengidentifikasi masih perlunya penguatan daya saing UMKM, terutama dalam aspek pemasaran digital, identitas usaha, serta kesiapan legalitas.
KKN 09 Untag Banyuwangi Dorong UMKM Desa Watukebo Naik Kelas Lewat Digitalisasi Usaha
- Dovalent Vandeva Derico/ VIVA Mindset
Ketua Kelompok KKN 09, Lutfi Abdurrahman H., mengatakan sebagian besar pelaku UMKM menunjukkan antusiasme yang cukup baik saat mengikuti pendampingan digitalisasi usaha.
"Secara umum, tingkat adaptasi pelaku UMKM cukup baik, meskipun terdapat beberapa penyesuaian di awal. Sebagian pelaku UMKM antusias terhadap penggunaan Google Maps dan QRIS karena dinilai dapat memperluas jangkauan pemasaran dan mempermudah transaksi. Namun, ada juga yang masih mempertimbangkan kesiapan usaha sebelum mengadopsinya secara penuh," ujarnya.
Dalam proses pendampingan, mahasiswa tidak hanya mengenalkan teknologi digital, tetapi juga membantu UMKM membangun identitas usaha. Pendampingan branding diberikan kepada pelaku usaha yang belum memiliki logo atau merek, memiliki tampilan usaha yang masih sederhana, mempunyai potensi berkembang, serta siap menerima pendampingan.
Selain itu, mahasiswa turut memberikan edukasi mengenai sertifikasi halal dan legalitas usaha. Menurut Lutfi, tantangan yang paling banyak disampaikan pelaku UMKM berkaitan dengan kesiapan usaha, baik dari sisi proses produksi, konsistensi menjalankan usaha, maupun kesiapan memenuhi tahapan administrasi yang diperlukan dalam pengurusan legalitas.
Selama pelaksanaan program, mahasiswa berhasil memfasilitasi pendaftaran Google Maps bagi lima UMKM, implementasi QRIS pada empat UMKM, serta membantu penguatan branding melalui pembuatan logo, banner, dan label kemasan sesuai kebutuhan masing-masing pelaku usaha. Pendampingan tersebut juga disertai edukasi mengenai sertifikasi halal dan legalitas usaha guna meningkatkan kesiapan transformasi digital dan daya saing UMKM.
Lutfi berharap pendampingan yang telah dilakukan dapat menjadi langkah awal bagi pelaku UMKM di Desa Watukebo untuk mengembangkan usaha secara lebih profesional dan mandiri.