Tips Tenang Hadapi Anak yang Terus Minta Perhatian Tanpa Histeris
- https://www.freepik.com/free-photo/medium-shot-teacher-holding-crying-kid_25810566.
Parenting, VIVA Mindset –Sering kali orang tua merasa kewalahan ketika balita terus-menerus menuntut perhatian sepanjang hari sampai membuat suasana rumah tidak tenang. Artikel dari Janet Lansbury berjudul “Stressed by a Child’s Demands for Attention” memberikan perspektif baru tentang bagaimana menghadapi tuntutan perhatian anak tanpa menjadi “budak” dari keinginannya.
Dalam pengalaman seorang ibu yang disoroti di artikel tersebut, anak usia 2,5 tahun terus minta perhatian dari pagi sampai malam, bahkan sampai mengganggu percakapan atau interaksi orang tua satu sama lain. Kondisi ini membuat orang tua merasa seperti seluruh energi dan waktu mereka tersedot demi memenuhi tuntutan perhatian anak setiap saat.
Janet Lansbury menekankan bahwa anak kecil akan terus menuntut, itu bagian alami dari perkembangan mereka tetapi yang penting adalah respon orang tua terhadap tuntutan itu. Pendekatan yang direkomendasikan bukanlah meladeni semua dorongan anak, melainkan membantu anak merasa aman dan belajar bahwa tidak seluruh dunia berputar hanya pada permintaan mereka.
Salah satu inti pesan dalam artikel ini adalah belajar untuk mengatur batasan orang tua. Lansbury menyarankan orang tua untuk tetap tenang saat anak menangis atau marah tanpa langsung menghentikan emosi mereka. Cara yang lebih efektif adalah dengan menerima bahwa emosi tersebut muncul, memberi pengakuan secara sederhana misalnya “Aku lihat kamu sangat marah karena aku bilang tidak”, kemudian orang tua tetap melakukan apa yang perlu dilakukan dengan percaya diri dan stabil. Ini membantu anak memahami bahwa emosi adalah bagian normal dari kehidupan, bukan senjata untuk mendapatkan apa yang mereka mau.
Janet juga menekankan pentingnya agar orang tua tidak jatuh ke dalam perangkap “menenangkan anak sepanjang waktu”. Menanggapi setiap perilaku destruktif atau gangguan kecil hanya memberi anak rasa bahwa perilaku tersebut berhasil membuat orang tua berhenti dari apa yang sedang dilakukan yang pada akhirnya memperkuat pola perhatian negatif anak.
Selain itu, Lansbury menyarankan agar orang tua memposisikan diri sebagai pemimpin yang berwibawa namun tetap penuh kasih. Dengan begitu, anak dapat merasa aman karena tahu bahwa orang tua memegang kendali rumah tangga, sementara anak juga diberi ruang untuk mengekspresikan emosinya sendiri tanpa tekanan.
Praktik membangun perhatian anak positif seperti berhenti sejenak saat benar-benar diperlukan tetapi tidak bereaksi berlebihan terhadap setiap permintaan, turut membantu anak belajar bahwa mereka cukup dicintai meskipun tidak selalu menjadi pusat perhatian.
Walau sering tampak sangat ekspresif dan intens secara emosional, anak sebenarnya membutuhkan figur orang tua yang tenang dan konsisten, bukan kendali sepenuhnya atas situasi. Dengan memberi kesempatan bagi anak untuk mengekspresikan perasaannya tanpa membiarkan tuntutan mereka menguasai dinamika keluarga, orang tua dapat menumbuhkan perilaku yang sehat di lingkungan rumah.