Anemia pada Remaja Putri: Apa Sih Pengaruhnya di Masa Depan?

Sekelompok siswi tersenyum memancarkan kebahagiaan dan energi
Sumber :
  • https://www.pexels.com/id-id/foto/kedudukan-posisi-kegembiraan-tersenyum-15164771/

Parenting, VIVA Mindset​Masa remaja merupakan fase krusial bagi pertumbuhan fisik dan mental. Namun, di balik semangat dan tingginya aktivitas remaja putri, ada satu masalah kesehatan yang sering kali mengintai tanpa disadari, yaitu anemia. Kondisi kekurangan sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) di bawah batas normal ini kerap dianggap sepele sebagai "capek biasa," padahal dampaknya bisa memengaruhi kualitas hidup hingga jangka panjang.

​Menurut panduan edukasi dari upk.kemkes.go.id, remaja putri memiliki risiko jauh lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan remaja putra. Hal ini dipicu oleh siklus menstruasi bulanan yang menyebabkan kehilangan darah secara rutin, ditambah dengan masa pertumbuhan cepat (growth spurt) yang membutuhkan asupan zat besi lebih banyak.

Penyebab Utama Anemia pada Remaja Putri

​Berdasarkan ulasan kesehatan di portal halodoc.com, anemia zat besi pada remaja putri umumnya disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor berikut:

  1. Kehilangan Darah Saat Menstruasi: Volume darah yang keluar setiap bulan memotong cadangan zat besi dalam tubuh jika tidak diimbangi dengan asupan nutrisi yang cukup.
  2. Pola Makan dan Diet Ketat yang Keliru: Banyak remaja putri menerapkan diet pembatasan makan tanpa pengawasan medis demi penampilan, sehingga memangkas asupan asupan protein hewani dan zat besi.
  3. Kurangnya Asupan Nutrisi Pendukung: Kurangnya konsumsi makanan kaya Vitamin C yang berperan penting dalam membantu penyerapan zat besi di dalam usus.

Gejala 5L yang Kerap Diabaikan

​Sebagaimana dipaparkan dalam artikel kesehatan alodokter.com, gejala anemia sering kali berkembang perlahan sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa tubuhnya sedang kekurangan hemoglobin. Beberapa tanda khas yang perlu diwaspadai antara lain:

  • Prinsip 5L: Lesu, Letih, Lemah, Lelah, dan Lunglai saat menjalankan aktivitas harian.
  • Penurunan Konsentrasi Belajar: Tubuh yang kekurangan oksigen membuat otak cepat lelah, sulit fokus, dan menurunkan prestasi akademik di sekolah.
  • Tampilan Fisik Pucat: Wajah, bibir, kelopak mata bagian dalam, serta kuku tampak lebih pucat dari biasanya.
  • Sering Pusing dan Sempoyongan: Terutama saat mendadak berdiri dari posisi duduk atau berbaring.